Jakarta, Aktual.com – Pertemuan Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di kediaman Cikeas dinilai pengamat politik Arifki Chaniago memiliki makna lebih dari sekadar silaturahmi lebaran. Pertemuan ini dinilai membuka peluang komunikasi politik yang bisa menghidupkan kembali opsi duet Anies–AHY menjelang Pilpres 2029.
“Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memancing kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup,” ujar Arifki Chaniago, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Sabtu (28/03/2026).
Arifki menekankan bahwa hubungan Anies dengan Partai Demokrat memiliki sejarah panjang. Salah satunya terlihat ketika Anies mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat 2014 di era kepemimpinan SBY. Hubungan politik ini kembali terlihat dalam Pilpres 2024, saat skenario duet Anies–AHY sempat menjadi opsi utama sebelum akhirnya batal di tahap akhir.
Menurut Arifki, peluang duet kedua tokoh sangat bergantung pada dinamika politik ke depan, terutama posisi AHY dalam pemerintahan Prabowo Subianto. “Kalau Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup di pemerintahan, maka kemungkinan membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka menjelang Pilpres 2029,” jelasnya.
Namun, Arifki juga menyoroti tantangan terbesar: ambisi politik masing-masing tokoh. Baik Anies maupun AHY memiliki posisi tawar sebagai calon presiden, sehingga kompromi menjadi kunci.
“Ini yang perlu dicarikan titik temu. Tapi dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu,” tambahnya.
Pertemuan di kediaman SBY juga memiliki makna simbolik. Cikeas dianggap sebagai ruang penting pengambilan arah politik Partai Demokrat. Arifki menilai jika pertemuan berlangsung hangat, komunikasi politik bukan hanya terbuka, tetapi mendapat ruang serius.
“Pertemuan ini memang bukan keputusan politik, namun cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal dalam memancing kemungkinan duet Anies–AHY kembali muncul pada Pilpres 2029,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















