Jakarta, Aktual.com – Di tengah wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan fluktuasi energi global, efisiensi biaya operasional kendaraan menjadi perhatian utama konsumen otomotif di Indonesia. Menjawab kebutuhan tersebut, Chery menghadirkan solusi melalui teknologi hybrid yang diklaim mampu menekan pengeluaran mobilitas hingga sekitar Rp500 ribuan per bulan.
Dalam perspektif otomotif, tekanan biaya bahan bakar kini tidak hanya memengaruhi pengguna kendaraan konvensional, tetapi juga mendorong pergeseran ke teknologi elektrifikasi seperti hybrid dan mobil listrik. Efisiensi energi menjadi faktor kunci dalam menentukan pilihan kendaraan, terutama bagi keluarga dengan mobilitas tinggi.
Melalui teknologi Chery Super Hybrid (CSH), pabrikan asal China ini mengintegrasikan penggunaan bahan bakar dan listrik untuk menghasilkan efisiensi yang lebih optimal. Salah satu model unggulannya, TIGGO 8 CSH, diklaim mampu menekan biaya operasional secara signifikan.
Berdasarkan simulasi penggunaan dalam kota sejauh 40 km per hari atau sekitar 1.200 km per bulan, konsumsi energi tercatat sebesar 184 kWh listrik dan 15,8 liter BBM. Dengan asumsi harga BBM Rp12.300 per liter, total biaya mobilitas bulanan hanya sekitar Rp506.000.
“Dengan teknologi Chery Super Hybrid, pengguna dapat menghemat biaya mobilitas harian secara signifikan dibandingkan kendaraan konvensional,” demikian keterangan resmi Chery.
Selain TIGGO 8 CSH, model TIGGO 9 CSH juga menunjukkan efisiensi dalam penggunaan nyata. Salah satu konsumen, Leyana Riesca, mengaku merasakan langsung penghematan saat perjalanan jarak jauh.
“Saya mencoba perjalanan mudik Bogor–Surabaya dengan gaya berkendara normal. Menariknya, saya tidak perlu mengisi bensin di tengah perjalanan. Biaya pulang-pergi sekitar 1.600 km hanya sekitar Rp700 ribuan untuk BBM, ditambah charging kurang dari Rp200 ribuan,” ujarnya.
Teknologi CSH didukung mesin hybrid ACTECO 1.5TGDI dengan efisiensi termal 44,5% serta sistem transmisi DHT dengan efisiensi hingga 98,5%. Sistem ini mampu beradaptasi otomatis antara mode listrik (EV) dan hybrid (HEV) sesuai kondisi jalan secara real-time.
Selain itu, fitur Vehicle-to-Load (V2L) memungkinkan kendaraan menjadi sumber daya listrik tambahan, memberikan fleksibilitas bagi pengguna dalam berbagai aktivitas.
Chery menyebut teknologi ini telah diuji di lebih dari 20 negara dengan total jarak lebih dari 20.000 km, mencakup berbagai kondisi jalan. Hasilnya menunjukkan efisiensi yang konsisten tanpa mengorbankan performa dan kenyamanan.
Dengan kombinasi inovasi teknologi dan edukasi berkendara efisien, Chery menilai kendaraan hybrid dapat menjadi solusi realistis di tengah kenaikan harga BBM, sekaligus menjembatani transisi menuju mobil listrik di Indonesia.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi
















