Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi XII DPR RI Syafruddin, meminta Presiden RI Prabowo Subianto turun langsung dalam upaya diplomasi terkait tertahannya kapal tanker milik Pertamina di Selat Hormuz. Menurutnya, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah tidak cukup ditangani melalui jalur teknis kementerian, melainkan membutuhkan komunikasi langsung antar kepala negara.

“Masalah kapal Pertamina ini memerlukan lobi langsung dari Presiden. Tidak cukup hanya menteri ESDM, Menteri Luar Negeri, atau di bawahnya,” ujar Syafruddin di Jakarta, Sabtu (28/3/2026).

Diketahui, dua kapal tanker Pertamina tertahan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, termasuk kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan KBRI Teheran saat ini terus melakukan diplomasi untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya.

Syafruddin mengapresiasi langkah tersebut, namun menilai perlu peningkatan ke level strategis agar lebih efektif.

“Upaya Kemlu sudah tepat, tetapi ini menyangkut jalur energi global dan keselamatan aset negara. Presiden perlu turun langsung agar memiliki daya tekan diplomatik lebih kuat,” katanya.

Ia menambahkan, Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini dinilai tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga stabilitas energi global.

Selain itu, keterlibatan langsung Presiden dinilai dapat memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai negara non-blok yang memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk Iran.

Syafruddin juga menekankan pentingnya pendekatan multilateral di tengah konflik yang masih berlangsung, sekaligus mendorong percepatan diversifikasi pasokan energi nasional agar tidak bergantung pada jalur rawan konflik.

“Ini bukan hanya soal kapal, tetapi bagaimana negara hadir melindungi aset strategis dan warganya di tengah konflik global,” ucap politikus PKB ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi