Pedagang menata emas perhiasan di salah satu pusat penjualan Toko Emas Murni Kota Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (27/9/2025). Harga emas perhiasan sejak sepekan terakhir di Aceh mengalami kenaikan yang terdiri emas murni 23 karat naik dari Rp6,3 juta per mayam atau 3,3 gram menjadi Rp 6,6 juta per mayam, emas london 22 karat naik dari Rp6,1 juta per mayam menjadi Rp6,3 juta per mayam belum termasuk ongkos pembuatan, kenaikan harga emas tersebut dipicu kondisi ekonomi global yang tidak stabil dan penguatan harga emas dunia. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz
Pedagang menata emas perhiasan di salah satu pusat penjualan Toko Emas Murni Kota Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (27/9/2025). Harga emas perhiasan sejak sepekan terakhir di Aceh mengalami kenaikan yang terdiri emas murni 23 karat naik dari Rp6,3 juta per mayam atau 3,3 gram menjadi Rp 6,6 juta per mayam, emas london 22 karat naik dari Rp6,1 juta per mayam menjadi Rp6,3 juta per mayam belum termasuk ongkos pembuatan, kenaikan harga emas tersebut dipicu kondisi ekonomi global yang tidak stabil dan penguatan harga emas dunia. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz

Jakarta, Aktual.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 1,17 persen secara bulanan pada Maret 2026. Penurunan ini menjadi yang pertama setelah komoditas tersebut mencatat inflasi selama 30 bulan berturut-turut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil deflasi pada periode tersebut.

“Selama 30 bulan berturut-turut mengalami inflasi, baru saat ini komoditas emas perhiasan mengalami deflasi,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Secara umum, inflasi bulanan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41 persen, melambat dibandingkan Februari yang mencapai 0,68 persen. Meski demikian, Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap meningkat dari 110,57 menjadi 110,95.

Berdasarkan data BPS, emas perhiasan menyumbang deflasi sebesar 0,03 persen terhadap inflasi umum. Komoditas ini juga menjadi penyumbang deflasi terdalam dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan kontribusi sebesar 0,37 persen.

Kelompok tersebut secara keseluruhan mengalami deflasi sebesar 0,21 persen dengan andil 0,01 persen terhadap inflasi bulanan, sekaligus menjadi capaian terendah dalam empat tahun terakhir.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada Maret 2026 terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi sebesar 1,07 persen dengan andil 0,32 persen terhadap inflasi bulanan.

Ateng merinci, komoditas yang dominan mendorong inflasi di antaranya ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, serta daging sapi.

Sementara itu, tarif angkutan udara bersama emas perhiasan tercatat sebagai komoditas yang menahan inflasi, dengan masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.

Dalam kelompok transportasi, BPS mencatat inflasi sebesar 0,41 persen pada Maret 2026 setelah sebelumnya mengalami deflasi pada Februari. Tarif angkutan antarkota dan bensin menjadi pendorong utama inflasi transportasi pada periode Lebaran tahun ini.

Namun demikian, sejumlah komoditas transportasi justru mengalami penurunan harga seiring kebijakan stimulus pemerintah.

“Deflasi ini terjadi seiring penerapan stimulus ekonomi berupa diskon tarif transportasi pada masa Lebaran Idul Fitri 2026,” kata Ateng.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi