Jakarta, Aktual.com – Pemerintah menyatakan daya beli masyarakat tetap terjaga meski terjadi peningkatan konsumsi selama Ramadan dan menjelang Idulfitri 2026. Hal ini tercermin dari inflasi tahunan Maret 2026 yang turun menjadi 3,48 persen, lebih rendah dibandingkan Februari yang mencapai 4,8 persen.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengatakan penurunan inflasi terjadi pada seluruh komponen, terutama harga yang diatur pemerintah (administered prices) dan harga pangan bergejolak (volatile food).
“Terjaganya inflasi selama Ramadan dan Idulfitri turut didukung upaya pemerintah dalam menjaga daya beli melalui berbagai kebijakan, seperti diskon transportasi, bantuan pangan, serta pengendalian inflasi melalui operasi pasar, intervensi harga, dan pengawasan distribusi,” ujar Febrio dalam keterangan resmi, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan permintaan bahan pangan meningkat sepanjang Ramadan, khususnya pada komoditas protein hewani. Namun demikian, inflasi inti justru menurun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan.
Selain itu, aktivitas konsumsi masyarakat tetap menunjukkan pertumbuhan. Indeks Penjualan Riil Februari 2026 tercatat meningkat 6,9 persen secara tahunan. Penjualan mobil naik 12,2 persen, sementara penjualan semen tumbuh 5,3 persen pada periode yang sama.
“Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama,” tambah Febrio.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi Maret 2026 sebesar 0,41 persen secara bulanan, 3,48 persen secara tahunan, dan 0,94 persen secara tahun kalender.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 110,57 pada Februari menjadi 110,95 pada Maret 2026.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan inflasi 1,07 persen dan andil sebesar 0,32 persen,” ujar Ateng.
Di sisi lain, sejumlah komoditas memberikan andil deflasi, terutama tarif angkutan udara dan emas perhiasan. Penurunan tarif transportasi terjadi seiring stimulus pemerintah selama periode Lebaran.
BPS juga mencatat neraca perdagangan Februari 2026 mengalami surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS, melanjutkan tren positif selama 70 bulan berturut-turut. Nilai ekspor tercatat sebesar 22,17 miliar dolar AS dan tetap tumbuh secara tahunan.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















