Jakarta, Aktual.com — Sejumlah negara Eropa menolak atau membatasi permintaan Amerika Serikat (AS) terkait dukungan terhadap operasi militer ke Iran, di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Austria menjadi salah satu negara yang menegaskan penolakannya. Pemerintah Wina menolak permintaan AS untuk menggunakan wilayah udaranya sebagai jalur operasi militer dengan alasan komitmen terhadap kebijakan netralitas yang telah lama dianut.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Austria pada Kamis (2/4) mengonfirmasi adanya beberapa permintaan dari Washington. Namun, pemerintah menyatakan setiap permintaan akan ditinjau secara kasus per kasus tanpa memberikan persetujuan secara umum.
Sikap tersebut juga mendapat dukungan dari oposisi. Partai Sosial Demokrat (SPO) mendesak pemerintah agar tetap konsisten mempertahankan kebijakan netralitas dan tidak memberikan izin terhadap penerbangan militer AS, termasuk untuk kepentingan logistik.
“Pemerintah tidak seharusnya menyetujui satu pun penerbangan militer AS ke kawasan konflik. Langkah ini penting untuk menjaga kepentingan ekonomi Austria dan stabilitas kawasan,” ujar pimpinan SPO, Sven Hergovich.
Austria bukan satu-satunya negara yang mengambil sikap serupa. Spanyol dilaporkan telah menutup wilayah udaranya untuk penerbangan militer yang terkait konflik tersebut. Sementara itu, Italia juga menolak permintaan pesawat militer AS untuk mendarat di pangkalan mereka di Sisilia.
Di sisi lain, Polandia menegaskan tidak akan memenuhi permintaan AS untuk memindahkan sistem pertahanan rudal Patriot ke Timur Tengah. Menteri Pertahanan Polandia, Władysław Kosiniak-Kamysz, menyatakan sistem tersebut akan tetap difokuskan untuk menjaga keamanan nasional.
“Baterai Patriot kami digunakan untuk melindungi wilayah udara Polandia dan sayap timur NATO. Tidak ada rencana untuk memindahkannya,” ujarnya.
Wakil Menteri Pertahanan Polandia, Cezary Tomczyk, juga menegaskan bahwa sistem pertahanan tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas kawasan Eropa Timur, sehingga tidak dapat dialihkan ke wilayah lain.
Eskalasi ketegangan ini dipicu oleh serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel ke sejumlah target di Iran sejak akhir Februari 2026. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan serta korban jiwa, termasuk warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan, termasuk Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Serangan balasan ini turut memicu gangguan terhadap infrastruktur serta meningkatkan ketegangan geopolitik global.
Situasi tersebut juga berdampak pada sektor ekonomi dan transportasi internasional, termasuk terganggunya jalur penerbangan dan ketidakstabilan pasar global.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















