tugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing

Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menahan arus modal keluar setelah rupiah sempat menembus level Rp17.000 per dolar AS. Langkah itu disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

“Kenapa sekarang untuk tahun 2026 ini, SRBI mulai akan naik? Ini karena kami harus menjaga keseimbangan antara keperluan menstabilkan nilai tukar, intervensi, dan juga bagaimana agar arus modal keluar tidak terlalu besar,” ungkapnya.

Menurut Perry, kebijakan tersebut berbeda dari tahun lalu ketika BI justru menurunkan SRBI secara agresif untuk mendukung likuiditas perbankan dan penyaluran kredit. Kini, bank sentral lebih menekankan keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, kecukupan likuiditas, dan daya tarik instrumen keuangan domestik.

Selain menyesuaikan SRBI, BI juga melihat ruang penurunan suku bunga acuan semakin terbatas. Ia mengatakan BI rate masih dipertahankan di level 4,75 persen, tetapi peluang penurunannya makin sempit seiring meningkatnya ketidakpastian global.

“Mengenai suku bunga, meskipun BI rate kami pertahankan di 4,75 persen, ke depan ruang penurunannya kemungkinan semakin tertutup. Kami juga harus menyikapinya dengan kebijakan yang berfokus pada stabilitas,” kata Perry.

Tekanan terhadap rupiah, jelasnya, berasal dari lonjakan harga minyak dunia, penguatan dolar Amerika Serikat, serta kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat. Kondisi itu dipicu konflik di Timur Tengah yang memperburuk jalur perdagangan, pasar komoditas, dan arus modal global.

Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral tetap aktif di pasar untuk menjaga kestabilan nilai tukar. “BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF di pasar offshore,” tulisnya dalam keterangan resmi yang diterima.

Ia mengatakan stabilitas nilai tukar kini menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi. Karena itu, BI akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter untuk meredam gejolak di pasar valuta asing.

Diketahui, pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), rupiah melemah 70 poin atau 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar Amerika Serikat dari posisi sebelumnya Rp16.980 per dolar Amerika Serikat. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari yang sama juga bergerak ke level Rp17.092 per dolar Amerika Serikat dari sebelumnya Rp17.037 per dolar Amerika Serikat.

Sehari kemudian, rupiah dibuka menguat ke kisaran Rp16.970 per dolar Amerika Serikat. Meski sempat menguat pada awal perdagangan Rabu, pergerakan tersebut menunjukkan tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda sehingga langkah stabilisasi melalui SRBI dan intervensi pasar tetap dijalankan.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi