Jakarta, aktual.com – Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan bahwa kapal tanker minyak dan kapal lainnya yang ingin melintasi Selat Hormuz wajib berkoordinasi dengan otoritas militer Iran guna menjamin keamanan perjalanan mereka.
“Selat Hormuz terbuka, tetapi tentu saja setiap kapal tanker dan kapal lain harus membuat pengaturan yang diperlukan dengan otoritas Iran agar dapat melintas dengan aman,” kata Khatibzadeh dalam wawancara dengan ITV.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut dipicu oleh adanya “kendala teknis” pasca serangan terbaru terhadap Iran, serta kondisi jalur perairan yang sempit sehingga membutuhkan tingkat kehati-hatian tinggi.
Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan gencatan senjata selama 14 hari antara AS dan Iran bergantung pada pembukaan kembali Selat Hormuz, lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut hingga kini masih terbatas.
Harga minyak berjangka tercatat kembali naik di atas 98 dolar AS per barel di London pada Kamis, setelah sempat anjlok lebih dari 13 persen pada hari sebelumnya, seiring meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global.
“Semua kapal yang ingin melewati Selat Hormuz harus berkomunikasi dengan tentara dan militer kami. Siapa pun yang berkomunikasi dengan otoritas Iran telah mendapatkan izin,” ujar Khatibzadeh.
Namun demikian, kebijakan tersebut dinilai akan menghadapi tantangan praktis. Sebelum konflik memanas, sekitar 130 kapal per hari melintasi Selat Hormuz, sehingga kewajiban koordinasi dengan otoritas Iran berpotensi memperlambat arus pelayaran.
Pernyataan Khatibzadeh juga sejalan dengan siaran radio otoritas Iran kepada lalu lintas maritim pada Rabu, yang menegaskan bahwa setiap kapal wajib memperoleh izin sebelum melintasi koridor laut tersebut.
Selain itu, Teheran dilaporkan mengenakan biaya tol hingga 2 juta dolar AS kepada sejumlah operator kapal untuk melintasi jalur vital tersebut.
Di sisi lain, dua kapal tanker minyak asal China yang telah penuh muatan terlihat menunggu di dekat Selat Hormuz pada Kamis, sementara satu kapal lainnya tengah menuju kawasan tersebut. Kapal-kapal ini berpotensi menjadi yang pertama meninggalkan Teluk Persia sejak gencatan senjata mulai diberlakukan.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global, sehingga setiap kebijakan pembatasan akses di wilayah tersebut berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas pasar minyak dunia.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt
















