Pekerja memerah susu sapi di kandang sapi perah Fakultas Peternakan UGM, DI Yogyakarta, Rabu (13/7). Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) mengkhawatirkan produksi susu sapi perah berkurang drastis karena penurunan populasi sapi perah untuk dipotong sebagai daging konsumsi. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/ama/16

Jakarta, Aktual.com — Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku susu masih sangat tinggi, mencapai 80 persen, sementara produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Kondisi ini mendapat sorotan dari DPR RI yang menilai upaya pemerintah menekan impor berjalan lambat.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menyatakan berbagai persoalan mendasar di sektor persusuan belum terselesaikan, mulai dari ketersediaan bibit, pakan, hingga pengelolaan limbah.

“Kita tahu ini masalah lama yang belum terselesaikan, yaitu ketergantungan impor susu yang mencapai 80 persen,” ujar Panggah dikutip dari laman dpr.go.id, Sabtu (11/4/2026).

Ia menilai progres pemerintah dalam memperkuat produksi susu nasional masih sangat lambat. Karena itu, DPR mendesak kementerian terkait, khususnya Kementerian Pertanian, untuk menyusun program aksi yang lebih terarah dan bertahap dalam mengurangi ketergantungan impor.

“Saya melihat progresnya masih sangat lambat. Karena itu, perlu disusun action program yang jelas untuk menurunkan ketergantungan impor secara bertahap,” katanya.

Panggah juga mengusulkan pendekatan berbasis klaster untuk mendorong produksi susu nasional. Pendekatan tersebut mencakup keterlibatan dunia usaha secara aktif serta pembinaan intensif terhadap peternak kecil guna meningkatkan produksi di tingkat lapangan.

Politikus partai Golkar ini membandingkan sektor persusuan dengan komoditas pangan lain yang dinilai telah menunjukkan kemajuan, seperti beras, ayam, dan daging. Namun, untuk komoditas seperti jagung, kedelai, dan susu, perkembangan dinilai masih tertinggal.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan dukungannya terhadap percepatan swasembada susu melalui penguatan ekosistem sapi perah dari hulu hingga hilir.

Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Indra Wijayanto, mengatakan peningkatan produksi membutuhkan langkah komprehensif, termasuk peningkatan produktivitas dan efisiensi di sektor hilir.

“Ekosistem sapi perah harus dibangun dari hulu hingga hilir agar produksi susu nasional dapat meningkat,” ujarnya saat kunjungan kerja di Salatiga, Jawa Tengah.

Data tahun 2025 mencatat populasi sapi perah nasional mencapai 499.360 ekor dengan produksi susu segar sebesar 820.874,82 ton. Produksi tersebut masih didominasi wilayah Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur.

Di sisi lain, stabilitas harga dan efisiensi distribusi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi susu nasional. Sepanjang 2024, harga susu sapi segar tercatat naik moderat sebesar 1,40 persen menjadi Rp16.619 per liter.

Pemerintah optimistis penguatan sektor hulu dan hilir dapat mendorong peningkatan produksi susu nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi