Ilustrasi suasana sidang di Dewan Keamanan PBB. /ANTARA/Anadolu/py

Jakarta, Aktual.com — Rusia menyatakan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) akan menggelar pertemuan terkait keamanan pelayaran global pada 27 April 2026 di New York.

Direktur Departemen Organisasi Internasional Kementerian Luar Negeri Rusia, Kirill Logvinov, mengatakan dalam pertemuan tersebut pihaknya akan memaparkan pendekatan terkait keamanan maritim secara komprehensif.

“Pertemuan Dewan Keamanan PBB berikutnya terkait keamanan pelayaran dijadwalkan pada 27 April,” ujar Logvinov kepada RIA Novosti.

Ia menambahkan Rusia akan menekankan pentingnya jaminan keamanan bagi pengiriman komersial dari semua negara di seluruh samudra dunia. Menurutnya, isu pelayaran selama ini lebih sering dibahas di Organisasi Maritim Internasional, namun kini mulai masuk dalam agenda DK PBB.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk beriktikad baik dalam perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Guterres menyambut baik rencana dialog yang dimediasi Pakistan dan mendorong kedua pihak memanfaatkan momentum diplomatik tersebut.

“Sekretaris Jenderal menyambut baik pembicaraan AS-Iran dan meminta para pihak memanfaatkan kesempatan ini dengan iktikad baik menuju kesepakatan yang langgeng dan komprehensif,” ujar Dujarric, Jumat (10/4).

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan telah menyepakati gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran, termasuk rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, ketegangan masih tinggi setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon yang tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut. Iran menilai langkah itu sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan keberhasilan perundingan sangat bergantung pada komitmen semua pihak dalam menjalankan kesepakatan gencatan senjata.

Pertemuan AS dan Iran di Islamabad diperkirakan menjadi salah satu upaya penting dalam meredakan ketegangan kawasan yang masih bergejolak.

Sumber: Sputnik, RIA Novosti

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi