Jakarta, Aktual.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan kesiapan untuk beralih dari penggunaan biosolar B40 ke B50 sejalan dengan target pemerintah yang akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan seluruh sarana lokomotif dan genset saat ini telah menggunakan biosolar B40 sebagai bagian dari dukungan terhadap transisi energi nasional.
“Seluruh sarana lokomotif dan genset yang dioperasikan KAI telah menggunakan energi terbarukan melalui bahan bakar biosolar B40,” ujar Anne dalam keterangan resmi, Minggu.
Ia menegaskan, langkah tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mendorong penggunaan energi terbarukan di sektor transportasi.
KAI, lanjutnya, juga siap mengadopsi B50 dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan melalui serangkaian uji teknis sebelum implementasi penuh.
“KAI menaruh perhatian besar dan siap mendukung langkah selanjutnya dari Kementerian ESDM, yaitu pengembangan B50,” ucapnya.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan uji jalan (road test) B50 saat ini telah mencapai 60–70 persen dan ditargetkan rampung pada Mei–Juni 2026.
“Insyaallah, Mei–Juni hasil akhirnya sudah selesai dan akan diterapkan di 1 Juli,” kata Bahlil.
Direktur Jenderal EBTKE ESDM, Eniya Listiani Dewi, menambahkan hasil sementara menunjukkan performa B50 pada mesin diesel relatif stabil tanpa gangguan signifikan, meski terdapat peningkatan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12 persen dibandingkan B40.
Di sisi lain, laporan Fitch Solutions melalui unit riset BMI menilai target implementasi B50 pada 2026 berpotensi menghadapi tantangan, terutama terkait keterbatasan kapasitas produksi biodiesel domestik.
Meski demikian, pemerintah tetap mendorong kebijakan ini sebagai bagian dari strategi mencapai target net zero emission (NZE) 2060 dan memperkuat kemandirian energi nasional.
Sepanjang Triwulan I 2026, KAI mencatat peningkatan jumlah penumpang sebesar 18,4 persen menjadi 14,5 juta pelanggan. Selain itu, angkutan logistik seperti batu bara dan barang lainnya juga terus berjalan dengan dukungan bahan bakar B40 yang lebih ramah lingkungan.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















