Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan eceran pada Februari 2026 tumbuh 6,5 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Januari 2026 yang sebesar 5,7 persen. Kenaikan itu terjadi seiring meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan.
Dalam keterangan resmi, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan penguatan tersebut juga tercermin dari kinerja bulanan penjualan eceran. Peningkatan penjualan terutama terjadi pada mayoritas kelompok barang, khususnya suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, dan tembakau, serta sandang.
“Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 tumbuh sebesar 4,1 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada fase kontraksi sebesar 2,7 persen (mtm),” tuturnya di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Bank sentral selanjutnya memperkirakan kinerja penjualan eceran tetap tumbuh pada Maret 2026. Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Maret diprakirakan naik 2,4 persen secara tahunan dengan level indeks mencapai 254,2.
Secara bulanan, pertumbuhan penjualan eceran pada Maret diperkirakan mencapai 9,3 persen, lebih tinggi dibandingkan Februari yang tumbuh 4,1 persen. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan penjualan pada mayoritas kelompok barang menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
Lebih lanjut, kelompok yang menopang pertumbuhan Maret antara lain peralatan informasi dan komunikasi, bahan bakar kendaraan bermotor, serta subkelompok sandang. Selain itu, dari sisi tahunan, penjualan juga ditopang oleh kelompok suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi.
“Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan kelompok suku cadang dan aksesori, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok barang budaya dan rekreasi,” kata Denny.
Di sisi lain, BI memperkirakan tekanan harga akan meningkat dalam tiga bulan ke depan, terutama pada Mei 2026. Proyeksi itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2026 yang sebesar 157,4, lebih tinggi dibandingkan IEH April 2026 sebesar 153,9, seiring kenaikan harga bahan baku.
Sementara itu, untuk enam bulan ke depan, tekanan harga diperkirakan lebih stabil. BI mencatat IEH Agustus 2026 berada di level 157,2, relatif tidak jauh berbeda dari IEH Juli 2026 sebesar 157,1. Dengan demikian, setelah dorongan belanja Ramadan dan Idulfitri, ekspektasi kenaikan harga diperkirakan lebih terkendali.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















