Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026). ANTARA/Imamatul Silfia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026). ANTARA/Imamatul Silfia.

Jakarta, aktual.com Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama dan kedua 2026 akan melampaui level 5,5 persen, meskipun di tengah gejolak ekonomi global. Optimisme tersebut, menurut dia, juga akan menopang kinerja pasar keuangan, khususnya pasar modal nasional.

Hal itu disampaikan Purbaya saat meresmikan Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/4/2026).

Bendahara Negara tersebut menjelaskan, pemerintah telah membentuk Satuan Kerja Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto guna mengatasi berbagai hambatan dalam sistem perekonomian.

“Jadi kalau sebelumnya pertumbuhan ekonomi 5 persen, ke depan kita akan tumbuh lebih cepat lagi. Kuartal I-2026 mungkin akan tumbuh 5,5 persen ke atas, triwulan kedua tahun ini juga akan seperti itu. Di tengah gejolak ekonomi global yang tidak jelas, kita mampu menciptakan ekonomi domestik yang baik, dan ini yang akan terjadi terus ke depan,” ujar Purbaya.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini tengah menjalankan reformasi sistem ekonomi secara serius. Menurutnya, pergerakan pasar saham sangat dipengaruhi oleh fundamental ekonomi suatu negara. Ketika ekonomi membaik, maka pasar saham juga akan ikut menguat.

“Reformasi yang kita jalankan tidak main-main, penerimaan pajak sudah tumbuh 30 persen, bea cukai direformasi, percepatan ekonomi dipantau oleh Pak Airlangga. Tanpa reformasi industri yang berlebihan, kita bisa tumbuh 6 persen dengan hanya menghidupkan private sector dan government sector. Itu modal awal,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga menyindir upaya pendalaman pasar modal yang dinilai belum optimal. Ia menilai, kemungkinan terdapat kekeliruan dalam strategi yang selama ini diterapkan.

“Saya sudah dengar istilah pendalaman pasar modal sejak tahun 2000 sampai sekarang tidak dalam-dalam, mungkin kita pakai cangkul yang salah,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguatan fondasi ekonomi akan berdampak langsung terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan proyeksi ekspansi ekonomi hingga 2029–2030, ia memperkirakan IHSG berpotensi meningkat signifikan.

“Saya selalu bilang fondasi ekonomi akan menentukan nilai IHSG kita. Dari mulai titik terendah ekonomi sampai ujung masa ekspansi bisa 4 sampai 5 kali. Katakan saja sekarang 7.000, ekspansi kita akan berlangsung sampai 2029–2030, berarti bisa sampai 28.000,” kata Purbaya.

“Ini bukan hal tidak mungkin kalau kita kembangkan pertumbuhan ekonomi dengan baik, dan itu pasti akan terjadi,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt