Jakarta, aktual.com – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sepanjang awal 2026 dinilai mulai memberi tekanan serius terhadap sektor energi dan pangan global, termasuk Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia hingga menembus USD 114 per barel memicu kenaikan harga berbagai komoditas energi dan berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi domestik.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena efeknya tidak hanya terasa pada sektor energi, tetapi juga mulai menjalar ke sektor pangan dan daya beli masyarakat. Menurut Abra, kenaikan harga energi global terjadi akibat terganggunya distribusi energi di Selat Hormuz serta tekanan pada ekspor LNG dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi itu, kata Abra, membuat harga BBM non-subsidi, LPG, hingga avtur di dalam negeri mengalami kenaikan signifikan. “Tekanan inflasi berbasis biaya mulai meningkat dan ini memberi dampak langsung terhadap sektor transportasi, logistik, serta UMKM,” kata Abra, di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga energi juga mendorong perpindahan konsumsi masyarakat ke energi bersubsidi. Situasi tersebut dinilai dapat memperbesar beban fiskal pemerintah apabila tren harga global terus bertahan dalam jangka panjang.
Meski demikian, Abra menilai Indonesia masih memiliki bantalan ketahanan energi yang relatif lebih baik dibanding sejumlah negara lain. Hal itu ditopang oleh dominasi penggunaan batubara domestik serta posisi Indonesia sebagai net eksportir gas alam.
“Indonesia relatif memiliki ketahanan energi yang cukup kuat karena masih ditopang sumber energi domestik,” ujarnya.
Pemerintah saat ini juga mempercepat implementasi biodiesel B50 sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor energi dan menekan pengeluaran devisa negara. Namun, kebijakan tersebut dinilai tetap memiliki konsekuensi terhadap anggaran subsidi dan stabilitas fiskal.
Di sektor pangan, Abra menyoroti capaian produksi padi nasional pada 2025 yang sempat mencatat rekor belum tentu menjamin ketahanan pangan dalam jangka panjang. Proyeksi panen 2026 disebut mulai mengalami perlambatan di tengah ancaman El Niño yang berpotensi mengganggu produksi pertanian nasional.
Selain faktor cuaca, tekanan pangan global juga meningkat akibat kenaikan harga pupuk, gandum, jagung, dan minyak sawit. Kondisi tersebut dipengaruhi konflik geopolitik internasional serta gangguan iklim di sejumlah negara produsen.
Abra menilai implementasi B50 dan meningkatnya ekspor sawit berpotensi memunculkan kompetisi penggunaan crude palm oil (CPO) antara kebutuhan pangan, energi, dan pasar ekspor. “Tanpa penguatan distribusi pangan, reformasi subsidi, dan peningkatan produktivitas pertanian, tekanan global bisa berkembang menjadi ancaman struktural bagi stabilitas ekonomi nasional,” kata Abra.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















