Sejumlah warga berada dalam pelarian setelah tentara Israel meminta mereka untuk meninggalkan bangunan sekolah tempat terakhir mereka mencari perlindungan, Jabalia, Jalur Gaza utara, Palestina, Sabtu (19/10/2024). ANTARA/Xinhua/Mahmoud Zaki/aa.

Gaza, aktual.com – Kondisi memprihatinkan terus terjadi di Jalur Gaza, Palestina. Warga Gaza tidak hanya terancam kehilangan nyawanya setiap detik akibat serangan militer Zionis Israel.

Warga Gaza juga terancam kehidupan dan masa depannya karena harus mengalami kekurangan pasokan makanan dan akses terhadap fasilitas kesehatan.

Hingga Sabtu, 23 Mei 2026, jumlah korban tewas di Jalur Gaza terus bertambah dan kini mencapai 72.783 orang, dengan 172.779 lainnya terluka sejak awal agresi Israel pada Oktober 2023, menurut sumber medis.

Disebutkan bahwa sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Menurutnya, jumlah tersebut masih belum lengkap lantaran masih banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan sehingga tidak dapat diakses oleh ambulans dan tim penyelamat.

Sumber medis mengatakan selama 24 jam terakhir, delapan warga Palestina tewas dan 29 lainnya terluka dan dibawa ke rumah sakit di Gaza.

Sementara, jumlah korban tewas dan luka sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025 masing-masing mencapai 890 dan 2.677 orang.

Sedikitnya 776 jenazah juga telah ditemukan dari timbunan reruntuhan.

Krisis Makanan: Antri Berjam-jam Makan Sehari Sekali

Khairi Harara telah menunggu berjam-jam di bawah terik matahari sebelum akhirnya mencapai bagian depan antrean.

Pria berusia 75 tahun itu bertumpu pada tongkat kayu, dan saat meninggalkan tempat itu, dia membawa sebuah panci kecil berisi sup lentil yang, menurutnya, harus cukup untuk memberi makan sembilan orang selama sehari.

“Saya tidak tahu jatah makanan ini akan diberikan untuk siapa,” katanya. “Jumlahnya sangat sedikit.”

Harara, yang mengungsi dari kamp pengungsi Shati di sebelah barat Gaza City, mengatakan bahwa banyak orang yang mengantre di belakangnya tidak pernah berhasil mencapai bagian depan antrean.

“Kalau datang terlambat, Anda pulang tanpa membawa apa pun.”

Dapur umum tempat dia mengambil makanannya berafiliasi dengan World Central Kitchen (WCK), salah satu organisasi nirlaba kemanusiaan terbesar yang masih beroperasi di Gaza. Namun, organisasi itu pun terpaksa mengurangi layanan.

Pada 14 Mei, WCK mengumumkan akan mengurangi jumlah makanan hingga setara dengan distribusi sebelum gencatan senjata akibat tekanan finansial yang terus meningkat.

Pengurangan bantuan tersebut berdampak luas pada masyarakat yang sudah berada di ambang batas kemampuan bertahan hidup.

Akibatnya, satu dari lima keluarga kini hanya makan sekali sehari, dengan sebagian orang dewasa memilih tidak makan agar anak-anak mereka bisa makan

Di Maghazi, Gaza tengah, Samah Hamad (37) mengatakan bahwa dia dan kedua anaknya kini sepenuhnya bergantung pada titik distribusi makanan di dekat tempat tinggal mereka. Suaminya tewas dalam konflik tersebut.

“Dapur umum menyediakan satu kali makan sehari, dan kadang itu bahkan tidak cukup untuk seorang anak,” katanya sambil memegang wadah plastik yang baru diterimanya.

Menurut Hamad, makanan yang diberikan hampir selalu sama — kacang-kacangan dan lentil. “Saat ada nasi dan daging, itu terasa seperti momen langka bagi anak-anak.”

Temuan WHO: Tragedi Kemanusian di Gaza

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menggambarkan hancurnya layanan kesehatan dan kehidupan manusia di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai sebuah tragedi mengerikan.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan Kamis (21/5), Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur Dr. Hanan Balkhy mengatakan sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 orang meninggal dunia dan 182.000 lainnya terluka.

“Pada 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru telah dilaporkan,” kata Balkhy.

Dia mengungkapkan setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut, layanan kesehatan masih terganggu, dan akses kemanusiaan juga masih terbatas.

Saat ini, lanjutnya, tidak ada rumah sakit yang berfungsi secara penuh di Gaza dan tidak ada satu pun rumah sakit yang beroperasi di Gaza utara.

Selain itu, lebih dari setengah stok obat-obatan penting habis, sementara ribuan pasien masih perlu evakuasi medis mendesak.

Lebih lanjut, penyakit menular terus menyebar di tengah kepadatan penduduk dan kondisi kesehatan yang memburuk. Kebutuhan akan fasilitas kesehatan mental juga sangat besar, sementara risiko bagi ibu dan bayi baru lahir meningkat tajam.

Terkait wilayah Tepi Barat, WHO mengonfirmasi situasi terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses.

WHO juga mengungkapkan selama empat bulan pertama di tahun ini, lebih dari sepertiga permohonan izin berobat pasien di Yerusalem Timur dan Israel ditolak atau ditunda.

Menurut WHO, persetujuan izin saat ini jauh lebih sedikit dibanding sebelum perang dimulai pada Oktober 2023 lalu, dengan lebih dari dua pertiga permohonan berobat saat itu dikabulkan.

Karena itu, Balkhy menegaskan pernyataan politik saja tidak cukup untuk mempertahankan operasi kemanusiaan.

Dia mendesak adanya upaya perlindungan bagi layanan kesehatan, penyaluran bantuan kemanusiaan berkelanjutan, serta pencabutan pembatasan yang menghambat pasokan medis penting dan tim medis darurat.

Balkhy juga meminta dukungan internasional untuk memulihkan dan memperluas layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan pada evakuasi medis, dan membuka kembali jalur rujukan dari Tepi Barat.

Sedangkan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza masih di bawah tekanan sangat besar, sehingga penting segera dibuka akses masuk untuk pasokan esensial.

Berdasarkan laporan harian pada Kamis (21/5), OCHA menyebut WHO telah mencatat 22 serangan terhadap fasilitas kesehatan dan layanan perawatan medis di Gaza yang mengakibatkan korban jiwa atau berdampak pada transportasi medis dan fasilitas kesehatan.

Kantor koordinasi itu menambahkan mitra lembaga bantuan kemanusiaan masih kesulitan dalam mengakses air, di mana tiga dari empat keluarga kini bergantung pada air yang dikirim dengan truk.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi