Jakarta, Aktual.co — Perdana Menteri Australia, Tony Abbott memperingatkan Vladimir Putin, bahwa presiden Rusia itu tidak bisa menghindar dari “perbincangan” soal hilangnya nyawa para warga Australia dalam jatuhnya pesawat Penerbangan MH17 di Ukraina.

Bulan lalu, Abbott menyatakan tekad akan “menghadapi” Putin pada pertemuan puncak G20 pekan depan di Brisbane.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev membalas retorika itu dengan mengatakan bahwa Putin adalah judoka bersabuk hitam dan “politisi-politisi yang serius harus berhati-hati dalam berkata-kata”.

“Ia (Putin) tidak akan bisa menghindar dari percakapan tentang itu, jadi bagaimanapun juga kami akan bertemu secara bilateral –apakah itu di lorong atau di ruangan yang suasananya lebih resmi,” kata Abbot kepada surat kabar The Australian, ditulis Jumat (7/11).

Abbott sendiri adalah mantan petinju di universitasnya.

Di Moscow, juru bicara Putin membenarkan bahwa Putin dan Abbott akan bertemu di sela-sela pertemuan puncak.

“Belum ada kesepakatan soal pertemuan terpisah,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada kantor berita pemerintah, RIA Novosti.

“Namun, karena Australia menjadi tuan rumah pertemuan puncak G20, tentu akan ada kesempatan untuk berbicara di sela-selanya.” Abbott mengatakan ia tidak ingin pertemuan G20 dibayang-bayangi oleh keretakan di antara mereka.

Sumber-sumber di pemerintahan mengatakan kedua pemimpin itu mungkin bisa melakukan pertemuan menjelang pertemuan puncak APEC di Beijing, yang dimulai Senin.

Peskov tidak menutup kemungkinan soal pertemuan di KTT APEC.

“Yang tidak akan saya lakukan adalah mengganggu G20 dengan argumentasi pribadi antara Australia dan Rusia,” kata Abbott.

“Tapi, saya sedang berupaya mendapatkan kesempatan bilateral dengannya (Putin) melalui kesempatan sesegera mungkin, yang akan menjadi peluang untuk menekankan betapa pentingnya bagi Australia –dan tentunya bagi Belanda, Malaysia serta semua negara yang warganya saat itu berada di MH17– untuk melihat adanya kerja sama penuh dalam penyelidikan.

Pesawat jet penumpang milik maskapai penerbangan Malaysian Airlines jatuh ditembak di Ukraina selatan pada Juli hingga menewaskan seluruh 298 orang yang berada di pesawat.

Sebagian besar korban tewas adalah para warga berkebangsaan Belanda, namun 38 warga negara dan penduduk Australia juga kehilangan nyawa mereka.

Australia –bersama-sama dengan Amerika Serikat– menuduh para pemberontak yang didukung Rusia sebagai pihak yang menembak pesawat tersebut dengan menggunakan sebuah peluru kendali yang dipasok oleh Moskow.

Rusia telah berulang kali membantah tuduhan tersebut dan sebaliknya mengarahkan tudingannya kepada Kiev.

Pernyataan-pernyataan Abbott muncul di saat Perdana Menteri Belanda Mark Rutte tiba di Australia –menggunakan pesawat Malaysia Airlines– untuk membahas tragedi MH17 serta upaya membawa pihak yang bertanggung jawab untuk diadili.

Proses penyelidikan selama ini terhambat oleh masalah-masalah menyangkut akses menuju lokasi jatuhnya pesawat sementara bentrokan terus terjadi di dekatnya antara pasukan pemerintah Ukraina dan separatis pro-Rusia.

()

()