Ilustrasi- Abu Sufyan al-Harits

Jakarta, Aktual.com– Pada saat pertama Nabi Muhammad SAW mendeklarasikan bahwa beliau Nabi, muncul banyak sekali yang mengingkari bahkan memusihinya. Tokoh-tokoh kafir Quraisy yang saat itu sangat vokal menolak dakwah Nabi adalah Abu Sufyan.

Namun, suatu yang tak disangka bahwa Abu Sufyan merupakan salah satu sahabat karib Nabi Muhammad. Ia dilahirkan berdekatan dengan hari lahirnya Rasulullah. Bahkan secara nasab masih sama-sama keturunan dari Abdul Muthalib dan juga masih saudara sepersusuan dengan Nabi karena Halimah as-Sa’diyah juga menyusui Abu Sufyan.

Berdasarkan pada kisah itu seharusnya sebagai sahabat karib sejak kecil, Abu Sufyan menjadi sosok yang paling lantang membela Rasulullah SAW saat beliau mendaklarasikan kenabiannya. Tetapi justru sebaliknya, Ia menjadi salah satu orang yang terdepan menolak dakwah Nabi.

Ia menolak dakwah Nabi dengan sangat keras. Ia tidak segan-segan melakukan tipu daya dan menyakiti kaum Muslimin pada saat itu, ia juga ikut berperang dengan kafir Quraisy saat melawan pasukan Muslim.

Sekitar 20 tahun Abu Sufyan memusuhi Islam. Dengan waktu yang lama itu, Islam menjadi agama yang banyak diikuti bahkan bukan hanya dari bangsa arab tetapi juga bangsa-bangsa non-arab. Kabar pembebasan Mekkah oleh Nabi telah tersebar kemana-mana. Abu Sufyan yang memang sangat membenci Islam sangat ketakutan, Ia beranggapan bahwa dirinya pasti menjadi orang yang pertama dibunuh.

Ia kemudian mengajak anak dan istrinya untuk pergi dari Mekkah. Namun, saat ingin pergi dari kota Mekkah, hatinya tertegun dan terbuka dengan kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, akhirnya ia menyatakan keislamanannya.

Ketika Nabi Muhammad sampai di kota Mekkah, Abu Sufyan langsung menghadap ke Beliau. Ia berharap Nabi Muhammad bahagia dengan keislamannya dan menerima dirinya dengan baik. Akan tetapi, Beliau justru berpaling dari Abu Sufyan begitu juga sahabat-sahabatnya.

Hal itu berlangsung cukup lama, kemudian Ia mendatangi Abbas bin Abdul Muthallib dan mencurahkan isi hatinya, Ia berharap agar Abbas menyampaikan keluh kesahnya kepada Rasulullah dan menerimanya sebagai sahabat. Akan tetapi, Abbas tidak mampu membantunya.

Abu Sufyan pun frustasi dengan itu semua. Hingga suatu saat ia melakukan suatu hal yang ekstrem untuk menebus kesalahannya dengan berjalan di sepanjang daratan bersama anaknya hingga mungkin titik akhirnya ia bisa mati kelaparan.

Nabi Muhammad SAW yang mendengar perihal itu dan merasa kasihan kepada Abu Sufyan. Kemudian Nabi berubah bahkan menjadi lemah lembut terhadap Abu Sufyan. Dari situ ia sangat senang karena diterima oleh Rasulullah SAW.

Dari situ Abu Sufyan tidak pernah sama sekali menatap wajah Rasulullah karena malu dengan apa yang diperbuat dirinya di masa lalu. Bahkan ia selalu menatap sendalnya. Rasulullah SAW bersabda tentang diri Abu Sufyan, sebagai berikut:

أبو سفيان بن الحارث سيد فتيان أهل الجنة

“Abu Sufyan al-Harits adalah pemuka pemuda ahli surga.” (HR. Al-Hakim)

Itulah kisah taubatnya Abu Sufyan al-Harits. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

Waallahu a’lam’

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)