Semarang, aktual.com – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau sejumlah ruas jalan nasional menjelang arus mudik Idulfitri 2026. Kunjungan dimulai dari ruas Jalan Parung, Bogor, Jawa Barat (Jabar), tepatnya dari Pasar Parung hingga Kemang, yang saat ini masih dalam proses perbaikan.
Di ruas tersebut tercatat 1.200 lubang. Hingga akhir Februari, masih tersisa 263 titik yang belum ditutup. Kementerian PU menargetkan dalam lima hari ke depan, seluruh lubang sudah tertangani agar masyarakat dapat melintas dengan lebih aman dan nyaman.
Peninjauan berlanjut ke ruas Pantai Utara atau Pantura. Saat meninjau ruas Pantura Kabupaten Indramayu pada Sabtu (28/2/2026), Dody menyampaikan perkembangan penanganan lubang di wilayah barat.
Untuk ruas Jalan Nasional Pantura Wilayah Barat, sebelumnya terdata sekitar 7.000 lubang dan kini tersisa 2.500 titik. “Kami pastikan sebelum arus mudik, hampir seluruhnya sudah pothole-free (bebas lubang),” ujar Dody, uas Pantura Kabupaten Indramayu, Senin (2/3/2026)
Sementara itu, total panjang jalan nasional di Jawa Timur (Jatim) mencapai 2.261,68 kilometer yang tersebar dalam 358 ruas dan didukung 973 jembatan dengan total panjang 34.807,36 meter. Tingkat kemantapan jalan disebut berada di atas 80 persen dengan mayoritas ruas dalam kondisi baik dan sedang.
Data Kementerian PU menunjukkan dari total 14.132 titik lubang yang terdata, sebanyak 13.306 titik telah tertangani dan menyisakan 826 titik dalam proses penyelesaian. Selain tambal sulam, percepatan penanganan marka jalan juga dilakukan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan menjelang puncak mudik.
Meski perbaikan terus dikebut, Dody mengingatkan soal kualitas tambalan. Ia meminta hasil pekerjaan tidak bergelombang dan membahayakan pengendara, khususnya sepeda motor.
“Saya minta diperbaiki, karena tambalannya jadi jendul gitu lho. Nggak smooth, jadi nggak smooth ya, itu bahaya bagi motor,” katanya.
Terkait target kemantapan jalan, Dody menilai kondisi lalu lintas di lapangan kerap berada di luar desain awal jalan nasional. “Selama yang lewat kayak nggak mungkin (mulus 100 persen),” ujar Dody.
Perhatian juga diarahkan pada titik rawan banjir dan longsor di Pantura. Dody menyebut wilayah Jabar menjadi daerah dengan titik rawan terbanyak, disusul Jawa Timur, sementara Jawa Tengah (Jateng) relatif lebih sedikit. Untuk mengantisipasi genangan, ia membentuk posko bersama antara Balai Jalan dan Balai Sungai di titik-titik rawan.
Menurut dia, tim Balai Sungai akan membawa pompa agar genangan bisa surut cepat. “Genangan paling maksimal, kalau bisa nggak 3 lebih dari 1 jam. Sehingga kemudian arus lalu lintas, tidak terganggu,” ujarnya.
Selain itu, dilakukan normalisasi sungai serta pemasangan sandbag di sisi jalan nasional guna mencegah luapan air masuk ke badan jalan. Ia menjelaskan normalisasi dilakukan sekitar 10 kilometer per tahun untuk satu ruas sungai dan mengakui persoalan sedimentasi membuat banyak sungai menjadi dangkal.
Ramah untuk Pemudik Motor
Dody juga menyoroti pentingnya jalan nasional yang ramah bagi pemudik sepeda motor. Ia menilai selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada kelayakan bagi kendaraan roda empat.
“Kayak kan masih ada bahasa 1 km per menit. Padahal kalau kita lihat kan sebetulnya untuk mobil mungkin oke ya, tapi untuk motor kemudian hujan plus penerangan jalannya itu misalnya gak nyala karena satu dan lain hal. Saya khawatir,” katanya.
Ia meminta jajaran di Jabar, Jateng, dan Jatim memastikan proses patching dilakukan rapi dan tidak bergelombang, termasuk di jembatan yang sambungannya banyak mengalami kerusakan. “Even untuk mobil, itu sudah tidak layak,” ujarnya menggambarkan kondisi di sejumlah titik.
Menurut Dody, sekitar 70 persen pemudik kendaraan roda empat memilih jalan tol, sehingga jalan nasional akan lebih banyak dilalui kendaraan roda dua. Karena itu ia meminta perhatian khusus pada keselamatan pemotor selama arus mudik dan balik.
“Makanya, saya minta tolong ke teman-teman di Jabar, Jateng, dan Jatim untuk lebih fokus bagaimana jalan nasional kita ini lebih ramah kepada pengedara peroda 2 gitu,” kata Dody.
Dody juga mengingatkan para pemudik pengguna sepeda motor agar memperhatikan kondisi fisik dan kendaraan sebelum melakukan perjalanan jauh. Ia menegaskan, berhenti saat kondisi sudah terlanjur lelah justru berisiko.
Menurutnya, sebagian besar pemudik roda dua melakukan perjalanan dengan berboncengan dua hingga tiga orang serta membawa barang bawaan. “Karena kalau sudah berhenti pada saat lelah pun itu berbahaya. Teman-teman kita yang mudik pakai roda dua rata-rata berboncengan dua, berboncengan tiga plus barang-barang,” kata Dody Hanggodo.
Dody juga menyampaikan agar pengendara tidak memaksakan diri ketika tubuh mulai kehilangan fokus. Ia mendorong pemudik untuk beristirahat lebih awal demi menjaga keselamatan di jalan.
“Saya sangat-sangat tidak menyarankan berhenti pada saat lelah, berhentilah sebelum lelah. Sehingga manakala masuk ke jalan itu anggap saja masuk ke area perang,” ucap Dody.
Ia menambahkan, kesiapan fisik dan kendaraan menjadi kunci agar perjalanan mudik berjalan aman hingga kembali ke tempat asal. “Badan harus super fit, motor super fit, jadi bisa sampai ke tempat tujuan dengan selamat, sehat, dan kembali lagi ke tempat awal dengan selamat dan sehat,” tutur Dody.
Kerusakan Jalan Akibat Odol Capai Rp50 Triliun
Terkait penyebab kerusakan jalan, Dody menyinggung keberadaan truk over dimension, overload (ODOL). Ia menyebut jalan nasional sejak awal tidak didesain untuk menahan beban berlebih tersebut.
“Kontribusinya kan sangat banyak. Ya satu cuaca, tapi kan saya tidak bisa menyalahkan cuaca, kalau saya menyalakan cuaca nanti menyalahkan Allah, masalah lagi,” ujarnya.
Namun, ia menekankan persoalan ODOL bersifat kompleks dan melibatkan banyak sektor. “Bukan saya menyalahkan truk-truk itu ya, tapi itu fakta, saya hanya menyampaikan fakta,” kata dia.
Menurut dia, penanganan ODOL harus dikoordinasikan di tingkat kementerian koordinator karena menyangkut perhubungan, korlantas, hingga perindustrian.
Ia mendukung target Zero ODOL pada 2027 dan berharap bisa terealisasi lebih cepat. Kerugian akibat kerusakan jalan yang dipicu berbagai faktor, termasuk ODOL, diperkirakan mencapai hampir Rp50 triliun per tahun pada 2025.
Janji Tak Ada Gangguan Arus Mudik
Dody memastikan tidak ada pekerjaan konstruksi yang mengganggu arus mudik. Dengan target tersebut, Kementerian PU berupaya memastikan jalan nasional tetap dapat dilalui dengan aman selama periode mudik dan balik Lebaran 2026.
“H- 10, sudah tidak ada pekerjaan konstruksi. Nanti h-10 saya keliling lagi untuk memastikan kualitasnya seperti yang saya mau,” ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















