Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin (kiri) menghadiri sidang kasus suap proyek Baggage Handling System (BHS) di PT Angkasa Pura Propertindo untuk bersaksi bagi terdakwa mantan Direktur Keuangan AP II Andra Y Agussalam di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (15/1/2020). Sidang itu beragenda mendengarkan keterangan tiga saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum KPK, salah satunya Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaludin. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Jakarta, Aktual.com – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat menggelar sidang lanjutan perkara dugaan suap proyek pengadaan Baggage Handling System (BHS) yang menyeret dua BUMN.

Dua perusahaan pelat merah itu adalah PT Angkasa Pura II dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI). Pada persidangan kali ini yaitu beragendakan pemeriksaan sejumlah saksi.

Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan saksi Komisaris PT Tri Mitra Lestari (TML) Energy, Teddy Simanjuntak.

Dalam kesaksiannya, Teddy mengungkap adanya utang-piutang antara mantan Dirut PT INTI, Darman Mappangara dengan bekas Dirkeu PT Angkasa Pura II, Andra Y Agussalam. Darman dan Andra merupakan terdakwa dalam perkara ini.

Teddy mengakui pernah diperintah oleh Darman untuk meminjam uang ke Andra sekira Rp5 miliar pada 2018. Kata Teddy, uang itu sebagai pinjaman utang dari Andra untuk Darman. 

“Jadi awalnya saya kurang begitu tahu pak pinjaman tersebut karena bukan saya yang mencari pinjaman, tapi waktu itu beliau, Pak Darman minta bantuan saya untuk bisa menandatangani kontrak perjanjian tersebut. Setelah itu, beliau percaya untuk saya mengambil uang tersebut,” ungkap Teddy saat bersaksi untuk terdakwa Andra dan Darman di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (27/1).

Lebih lanjut Teddy mengaku menerima 3 kali pemberian uang pinjaman dari Andra pada sekira Juli 2018 dengan nilai total Rp5 miliar. Namun, terdapat perjanjian antara Darman dan Andra bahwa pinjaman uang itu berbunga.

“Tanggal 2 bulan Juli, dengan nilai Rp5 miliar dengan bunga 250 juta yang tanda tangan beliau langsung Pak darman dengan Pak Andra,” ungkapnya.

Tak hanya sekali, sambung Teddy, Darman meminjam uang ke Andra dalam dua kali perjanjian. beberapa utang yang dipinjam Darman telah dikembalikan ke Andra berikut bunganya. “Pengakuan saya, itu untuk bayar utang pak,” katanya.

Dalam perkara ini, Mantan Direktur Keuangan (DirKeu) PT Angkasa Pura II, Andra Yastrialsyah Agussalam didakwa menerima suap sebesar 71.000 dolar Amerika Serikat dan 96.700 dolar Singapura. Uang itu diduga berasal dari mantan Dirut PT INTI, Darman Mappangara.

Uang tersebut diduga diterima Andra untuk mengupayakan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI) agar menjadi pelaksana pekerjaan pemasangan Semi Baggage Handling System (BHS).

Atas perbuatannya, Andra didakwa melanggar Pasal 12 huruf a dan b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. Fadlan Syiam Butho

(Tino Oktaviano)