Bila aku cinta, engkaulah air hujan yang jatuh mengaliri lembah, hidupkan kembali bumi dari kematiannya.

Bila aku cinta, engkaulah air susu yang menyehatkan, memberi daya tumbuh bagi tubuh yang ringkih.

Bila aku cinta, engkaulah anggur yang memabukkan rohani dalam puji Ilahi, menerbangkan cinta dari sangkar kekerdilan.

Bila aku cinta, engkaulah madu yang memberi ketahanan, menghangatkan yang dingin, mendinginkan yang panas, menjaga hidup dalam harmoni keseimbangan.

Dalam agama cinta, engkau menuntunku sembahyang, agar hidupku mengalirkan sungai air jernih yang menumbuhkan kehidupan.

Dalam agama cinta, engkau menganjurkanku berbagi-zakat, agar hidupku merembeskan susu ibu yang menyehatkan kehidupan.

Dalam agama cinta, engkau mengajariku berpuasa-menahan diri, agar hidupku menyuling anggur yang melesatkanku ke langit suci; membebaskan rohani dari penjara dunia kehidupan.

Dalam agama cinta, engkau mengajakku berhaji-menjiarahi rumah Ilahi, agar hidupku menjadi madu yang menyerap saripati bunga kehidupan; mengumpulkan segala perbedaan dalam esensi persamaan hak di hadapan Tuhan, yang menjamin stabilitas kehidupan.

Mari merawat cinta dengan sifat air murni, susu, anggur dan madu, dengan menangkap api sembahyang, zakat, puasa dan haji; bukan menggantang asap peribadatan yang hampa nilai kasih sayang.

Dengan itu, agama cinta memberi kita kehidupan, kekuatan, keluhuran dan keseimbangan.
(Makrifat Pagi, Yudi Latif)

(Arie Saputra)