Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menilai situasi geopolitik global saat ini bergerak semakin keras dan penuh ketidakpastian, sehingga berisiko menekan kepentingan strategis Indonesia. Ia menegaskan bahwa perubahan tatanan dunia tidak lagi bersifat abstrak, melainkan berdampak langsung terhadap stabilitas nasional.

Menurut AHY, eskalasi konflik dan persaingan kekuatan besar telah mengubah cara negara-negara berinteraksi di tingkat global. Kondisi tersebut menuntut setiap bangsa memiliki ketahanan agar tidak terjebak sebagai pihak yang dirugikan dalam percaturan internasional.

Putra Presiden ke-6 RI itu mengatakan bahwa ekonomi dan geopolitik kini menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. “Apa yang terjadi dalam percaturan geopolitik dunia hari ini langsung menyentuh kedaulatan sebuah bangsa, termasuk Indonesia,” ujar AHY kepada awak media di NT Tower, Jakarta Timur, Rabu (4/2/2026).

Lebih lanjut, konflik bersenjata dan ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan telah mengganggu rantai pasok global serta memicu lonjakan harga energi dan biaya logistik. Dampak tersebut, kata dia, tetap dirasakan Indonesia meskipun peristiwa geopolitik itu terjadi jauh dari kawasan Asia Tenggara.

Ia menyinggung sejumlah contoh konkret, mulai dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang mengancam jalur energi dunia hingga ketegangan terkait sumber daya alam strategis di Amerika Latin dan kawasan Arktik. Menurutnya, perebutan minyak dan mineral kritis menjadi pemicu utama mengerasnya persaingan antarnegara.

“Dalam situasi seperti ini, negara yang tidak siap akan membayar harga mahal, dan Indonesia tidak boleh berada di posisi lemah,” tuturnya.

Rivalitas global kini tidak lagi semata soal kekuatan militer, ungkap AHY, tetapi juga menyangkut standar teknologi, aturan perdagangan, hingga penguasaan pasokan strategis. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut berpotensi menjadikan negara berkembang hanya sebagai objek kepentingan kekuatan besar.

Dalam menghadapi dinamika itu, Menko Infrastruktur tersebut menekankan pentingnya membangun ketahanan nasional melalui kemandirian pangan, energi, dan air. Pembangunan infrastruktur, baginya, harus diarahkan secara tepat sasaran agar benar-benar memperkuat daya tahan bangsa, bukan sekadar menambah jumlah proyek.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi