Jakarta, Aktual.com — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai minimal 5,5 persen. Sasaran tersebut dipertahankan di tengah tekanan global yang masih membayangi, serta sejalan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Untuk kuartal pertama, kita optimistis lebih besar atau sama dengan 5,5 persen. Kemudian, pada akhir tahun lebih besar atau sama dengan 5,4 persen sesuai dengan perkiraan APBN,” tegasnya saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Ia mengakui proyeksi tersebut tetap dipengaruhi dinamika eksternal, terutama konflik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu rantai pasok global. Meski demikian, pemerintah masih menilai fondasi ekonomi dalam negeri cukup kuat untuk menopang pertumbuhan.
Perhitungan pemerintah, lanjut Airlangga, juga telah memasukkan asumsi harga minyak dunia yang saat ini berada pada kisaran rata-rata 76 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi dinilai memberi tekanan pada APBN, tetapi dampaknya masih dapat diimbangi melalui penerimaan komoditas dan pengelolaan subsidi.
Dari sisi domestik, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kinerja fiskal hingga Maret 2026 juga menunjukkan perbaikan, antara lain tercermin dari penerimaan pajak yang tumbuh 14,3 persen menjadi sekitar Rp462,7 triliun, sementara sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
Di tengah target pemerintah tersebut, Bank Dunia justru menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen. Revisi tersebut dinilai Airlangga sebagai bagian dari penyesuaian yang juga terjadi di banyak negara akibat melemahnya kondisi global dan meningkatnya ketidakpastian.
Meski proyeksi Bank Dunia dipangkas, pemerintah menilai angka tersebut masih menempatkan Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan global. “Namun, jika kita lihat, angka itu masih di atas pertumbuhan global rata-rata, yakni sekitar 3,4 persen,” kata Airlangga.
Lebih jauh, Airlangga memilih fokus menjaga stabilitas ekonomi domestik sambil menunggu realisasi pertumbuhan kuartal I sebagai indikator awal arah perekonomian tahun ini. Hasil tersebut akan menjadi acuan untuk melihat sejauh mana daya tahan konsumsi, fiskal, dan sektor riil mampu meredam tekanan dari perlambatan global.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi
















