Sejumlah pemuda memikul beduk saat takbir keliling di sepanjang kampung Arsopura, Skanto, Keerom, Papua, Minggu (1/5/2022). Takbir keliling bergantian memikul beduk (gendang besar/surau) berukuran kurang lebih 2x1,5 meter tersebut dilakukan ratusan warga keliling seluruh kampung untuk menyambut malam hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah. ANTARA FOTO/Indrayadi TH (Antara Foto/Indrayadi TH)

Jakarta, aktual.com – Budayawan sekaligus akademisi dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Ngatawie Al Zastrouw menilai toleransi Idul Fitri di Tanah Papua merupakan momentum untuk membangun moderasi.

“Masyarakat Papua tidak hanya memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga budaya dan tradisi yang jika dikembangkan bisa jadi modal membangun kesejahteraan,” kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (12/5).

Menurut dia, toleransi perayaan Idul Fitri di Papua tergambar pada pawai hadrat yakni suatu upacara merayakan Idul Fitri oleh masyarakat Kaimana. Pawai tersebut dimeriahkan dengan menabuh gendang, tifa dan rebana untuk mengiring selawat.

Warga yang mengikuti pawai akan menari bersama sambil berkeliling dan bersilaturahmi. Selain di Kaimana, tradisi Pawai Hadrat juga dilakukan di Jayapura.

Meneriknya, ujar dia, meski tradisi ini untuk merayakan hari besar umat islam, namun banyak melibatkan umat nonmuslim sehingga menjadi momentum membangun toleransi dan moderasi.

Melihat toleransi yang terbangun di Papua, Dr. Ngatawie mengajak masyarakat di Tanah Air untuk belajar dari warisan tradisi dan nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh para leluhur.

“Kebudayaan yang diwariskan para leluhur harus menjadi pedoman dan sesuatu yang bernilai serta bermanfaat bagi kehidupan kita,” kata dia.

Sementara itu, Koordinator Mahasiswa Papua di Jabodetabek, Moytuer Boymasa mengatakan secara umum Papua mementingkan persaudaraan antarumat beragama, suku, dan unsur-unsur lainnya.

“Setiap suku bahkan secara genealogi memiliki hubungan kekerabatan dan terus terjaga erat,” kata Moytuer.

Ia mengatakan sejak umat kristen dan islam masuk ke Bumi Cenderawasih, keduanya hidup saling berdampingan. Termasuk senantiasa sejalan dengan budaya yang ada di masyarakat, saling melengkapi, menguatkan hingga lahir tatanan masyarakat yang harmonis.

Wujud toleransi umat beragama di Papua misalnya saat pembangunan tempat ibadah. Masyarakat saling membantu dalam membangun masjid maupun gereja. Tidak hanya itu, Papua juga memiliki budaya toleransi yang kuat salah satunya tradisi bakar batu dari Suku Dani.

“Tradisi ini media untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai,” ujarnya.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)