Ilustrasi Penjual Daging Sapi

Jakarta, Aktual.com – Dekan Sekolah Vokasi universitas IPB Dr Arief Daryanto mengatakan memperbaiki sistem logistik dalam perdagangan global dan perdagangan domestik bisa menekan tingginya harga daging sapi yang sampai di masyarakat.

“Sangat mendesak bagi kita untuk memperbaiki sistem logistik dalam perdagangan global dan perdagangan domestik sampai ke meja konsumen,” kata Arief di Jakarta, Jumat (4/3).

Dia menjelaskan bahwa kenaikan harga daging sapi di pasar global dikarenakan terganggunya sistem produksi global selama pandemi. Hal itu berakibat pada harga daging sapi impor yang mengalami kenaikan. Selain itu, lanjut Arief, disrupsi logistik global juga mengakibatkan kenaikan biaya transportasi dan logistik.

Menurut Arief, sistem logistik dalam negeri perlu ditata kembali agar tidak menyebabkan rantai distribusi yang panjang dan membuat tingginya harga ketika sampai ke konsumen.

“Sistem logistik dalam negeri pun berbiaya mahal. Rantai distribusi daging sapi lokal harus melewati tujuh hingga sembilan tahapan sebelum sampai di tangan konsumen, sehingga membuat biaya distribusi sangat tinggi,” kata Arief yang merupakan penulis sejumlah buku tentang daya saing industri peternakan.

Harga daging sapi di pasaran saat ini melonjak hingga menembus Rp140.000 per kilogram (kg) dari harga normal daging sapi sebesar Rp120.000 per kilogram.

Menurut Arief, kenaikan harga daging sapi disebabkan karena permintaan (demand) dan penawaran (supply).

Dia menjelaskan bahwa daging sapi Australia yang merupakan salah satu negara importir daging sapi terbesar ke Indonesia tengah kekurangan pasokan jika dibandingkan periode sebelum Covid-19. Sementara permintaan akan daging sapi dari Australia meningkat dari negara-negara lain sehingga menyebabkan harga yang melonjak.

“Dari sisi penawaran (supply) dapat dijelaskan bahwa pada saat ini terdapat persaingan yang sangat tinggi untuk mendapatkan daging dari Australia karena permintaan global pun meningkat,” katanya.

Menurut dia, pada saat ini Indonesia sangat tergantung dari pasokan daging sapi dari Australia. Bahkam ketergantungannya sangat tinggi.

Arief menyarankan agar ke depan Indonesia bisa memperluas impor daging sapi tidak hanya dari Australia, namun juga dari Brazil dan Mexico.

(A. Hilmi)