Jakarta, aktual.com – Pemerhati gempa dan tsunami Daryono menyoroti tingginya jumlah kejadian bencana alam di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 20 Februari 2026. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sebanyak 394 peristiwa bencana terjadi dalam kurun waktu tersebut.

Dari ratusan kejadian itu, banjir menjadi bencana paling dominan dengan 199 peristiwa. Daryono menegaskan, tingginya angka tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.

“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah peringatan,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip, Minggu (22/2).

Ia menjelaskan, awal tahun identik dengan puncak musim hujan di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem yang dapat memicu kerusakan infrastruktur serta mengancam keselamatan warga.

Menurutnya, meski hujan tidak bisa dihentikan, risiko dan dampaknya masih dapat ditekan melalui langkah mitigasi yang tepat. “Kita tidak bisa menghentikan hujan, tetapi kita bisa mengurangi risikonya,” kata dia.

Daryono mengajak masyarakat melakukan langkah-langkah sederhana namun berdampak besar untuk mengurangi risiko bencana. Di antaranya dengan rutin membersihkan saluran air di lingkungan sekitar dan tidak membuang sampah ke sungai yang dapat memperparah banjir.

Selain itu, masyarakat diimbau menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, serta power bank guna mengantisipasi kondisi darurat. Mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul terdekat juga dinilai penting untuk mempercepat proses penyelamatan saat bencana terjadi.

Ia juga mengingatkan pentingnya memantau informasi resmi dari otoritas terkait agar masyarakat tidak terjebak pada kabar yang belum terverifikasi. Informasi yang akurat dinilai krusial dalam menentukan langkah tepat ketika situasi darurat.

Daryono menegaskan, kesiapsiagaan bukanlah bentuk ketakutan, melainkan wujud kepedulian terhadap keselamatan diri dan lingkungan sekitar.

“Kesiapsiagaan bukan tentang rasa takut. Kesiapsiagaan adalah bentuk kepedulian,” ujarnya.

Menurutnya, bencana memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya bisa ditekan apabila masyarakat memiliki budaya sadar bencana.

“Bencana memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikurangi jika kita siap. Mari tingkatkan budaya sadar bencana. Mulai dari rumah. Mulai dari diri sendiri,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Okta