Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid Alissa Wahid memberikan keterangan kepada wartawan usai menjadi pemateri dalam pendidikan dan pelatihan (diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa. ANTARA/Citro Atmoko
Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid Alissa Wahid memberikan keterangan kepada wartawan usai menjadi pemateri dalam pendidikan dan pelatihan (diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa. ANTARA/Citro Atmoko

Jakarta, aktual.com – Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Wahid Alissa Wahid menyampaikan bahwa negara memiliki “utang moral” berupa pelayanan optimal kepada jamaah haji lanjut usia (lansia).

​Hal tersebut disampaikan Alissa di hadapan ribuan peserta pendidikan dan pelatihan (diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1).

Menurut Alissa, narasi mengenai haji ramah lansia harus diterjemahkan ke dalam kebijakan teknis yang konkret. Ia menyoroti fenomena antrean haji Indonesia yang sangat panjang, sehingga wajar jika banyak jamaah baru mendapatkan kesempatan berangkat ketika usia sudah senja.

“Ketika seorang lansia baru mendapatkan giliran berangkat pada usia lanjut, maka kondisi tersebut harus diterima sebagai sebuah realitas. Pemerintahlah yang wajib menyesuaikan pelayanan, bukan justru meminggirkan para lansia,” kata dia.

Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023-2024 itu menuturkan, pemerintah wajib menyesuaikan mekanisme pelayanan haji agar ramah terhadap keterbatasan fisik mereka, bukan justru menjadikan kondisi fisik sebagai alasan untuk membatasi hak beribadah mereka.

“Substansinya adalah jamaah lansia tetap berangkat, namun seluruh mekanisme pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan khusus mereka,” ujar Alissa.

​Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid itu menekankan perlunya mitigasi risiko sejak awal, terutama pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Berdasarkan pengalamannya memantau di lapangan, seringkali jamaah lansia mengalami kesulitan beradaptasi dengan situasi padat di Mina, yang mengharuskan mereka dievakuasi atau dipulangkan lebih cepat ke hotel.

​”Mekanisme mitigasi seperti ini perlu dipikirkan secara matang. Jangan sampai solusi hanya muncul saat kondisi darurat terjadi. Indikator kemampuan jamaah perlu dikaji mendalam, namun solusinya adalah pendampingan yang lebih kuat,” ujarnya.

​Ia juga menyoroti aspek teknis pelayanan harian yang sering luput dari perhatian, seperti bantuan personal untuk ke kamar mandi atau mengurus diri.

Tanpa kebijakan yang jelas mengenai pendampingan petugas, jamaah lain sering kali merasa terbebani jika harus terus-menerus membantu rekan sekamarnya yang lansia.

​”Negara sudah memutuskan untuk melayani mereka, maka tanggung jawab tersebut harus ditunaikan dengan pelayanan optimal. Petugas haji adalah ujung tombak untuk membayar ‘utang’ pelayanan tersebut demi menekan risiko kesehatan dan angka kematian jamaah lansia,” kata Alissa.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain