Jakarta, Aktual.com – Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut kerjasama transaksi perdagangan tanpa menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) atau local currency settlement (LCS) dengan China memiliki dampak positif. Ibrahim mengatakan dampak positif tersebut bahkan langsung dirasakan pasar uang Indonesia saat kebijakan tersebut dilaksanakan awal September lalu.

” (Ini) mengurangi ketergantungan kepada Dolar AS. Terbukti dolar langsung mengalami pelemahan. Ini artinya dampak signifikan,” kata Ibrahim dalam dialog yang diselenggarakan Aktual.com, Jum’at (24/9) sore.

Ibrahim menambahkan langkah Bank Indonesia (BI) tersebut akan berpengaruh bagi stabilitas mata uang rupiah. Pasalnya, secara signifikan, mengurangi kebutuhan banyak pihak terhadap dolar AS.

“30 persen (Transaksi) saja dengan mata uang nilai lokal, tentu sudah sangat menarik. Kebutuhan dollar AS berkurang,” jelas dia.

Menurut catatan BI, hingga 20 September 2021, nilai tukar rupiah sudah menguat sebesar 0,94 persen. Salah satu penyebabnya, ungkap BI, karena terjaganya pasokan valas domestik dan langkah-langkah stabilisasi BI.

(Megel Jekson)

(A. Hilmi)