Jakarta, Aktual.co — Aneka barang hasil kerja kreatif terbuat dari daun meramaikan Festival Hijau di Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung yang diselenggarakan Forum Komunitas Hijau bekerja sama dengan pemerintah kabupaten setempat.
Festival Hijau yang digelar di Lapangan Sriwijaya Baradatu, Waykanan, Jumat (7/11), ditampilkan produk kreativitas pelajar, antara lain topi, pakaian hingga reog yang dibuat dari beragam jenis daun, seperti daun nangka, pisang, jati, kelapa hingga daun kunyit.
“Pas dan seru, saya tidak malu mengenakan pakaian terbuat dari daun,” ujar Elpin, pengajar SDN Tiuh Balakpasar Baradatu.
Dalam kegiatan ini, komunitas sepeda ontel juga tampil dengan mengenakan pakaian veteran.
“Terima kasih sudah berpartisipasi membuat bumi ijo royo-royo. Ramaikan kegiatan ini dengan bersuka cita,” ujar Bupati Waykanan Bustami Zainudin dalam festival yang dihadiri sekitar 5.000 orang pelajar, guru, PNS dan masyarakat umum itu pula.
Peserta kegiatan ini, menurut M Thohir, Ketua Forum Komunitas Hijau Waykanan, antara lain komunitas sepeda dari sejumlah sekolah dan utusan 14 kecamatan se-Kabupaten Waykanan.
“Kemudian karnaval ceria perwakilan dari seluruh SD dan SMP sederajat di Baradatu dan sekitarnya,” kata Thohir lagi.
Para pelajar antusias menabuh kentongan, drumband dan alat musik yang terbuat dari beragam kaleng bekas.
Pendidikan Lingkungan Festival Hijau Waykanan yang melibatkan kalangan pelajar itu, mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak.
“Pendidikan lingkungan bagi pelajar di sekolah itu penting dan sangat diperlukan untuk mengenalkan sejak dini tentang pelestarian lingkungan hidup,” ungkap Konsultan Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) Firmansyam.
“Pendidikan lingkungan dan etika itu penting diberikan kepada pelajar maupun generasi muda, sehingga dapat berperilaku yang baik sehari-hari, seperti tidak membuang sampah sembarangan yang juga menunjukkan perilaku kurang bermoral,” kata Firmansyam pula.
Pendidikan dan pemahaman pelajar akan lingkungan hidup, demikian Firmansyam, akan lebih baik jika sejak dini disampaikan.
“Mereka harus tahu betul itu, pendidikan lingkungan hidup merupakan program keberlanjutan yang berorientasi ke depan. Saat sudah dewasa, alam bawah sadarnya tidak di situ. Harus ada kesadaran sampah menjadi sahabat kita, dan tumbuhan memberikan sumbangan tanpa pamrih,” sambungnya.
Pelajar harus menyadari perlu hemat listrik, kata Firmansyam lagi. Lampu yang menyala percuma, katanya pula, berarti menghambur-hamburkan biaya.
“Ketika listrik dipakai, ada sumber daya lain digunakan, yaitu sumber daya alam,” katanya.
Kegiatan Festival Hijau yang digelar Forum Komunitas Hijau (FKH) Waykanan di Lapangan Sriwijaya Baradatu, menurut Firmansyam merupakan bagian dari Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH).
“Intinya, sebuah kota harus mengembangkan konsep hijau, antara lain ada komunitas hijau. Kegiatan ini juga untuk menyadarkan masyarakat perlu kota hijau, orang tidak membuang sampah sembarang, dan peran komunitas sangat besar, tidak mungkin tidak hanya menjadi tugas pemerintah saja,” terang Firmansyam lagi.

()