Jakarta, Aktual.co — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah akan mengadukan personel polisi, yang diduga memukul seorang anggota organisasi tersebut saat aksi di depan Istana Merdeka ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.
“Kami akan melaporkannya ke Propam. Kami tidak terima karena polisi selalu memulai kericuhan padahal kami melakukan aksi dengan damai,” kata Ketua Umum IMM Beni Pramula kepada Antara di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/5).
Menurut Beni, pihaknya akan menuntut polisi karena melakukan provokasi berupa pemukulan yang akhirnya memancing kericuhan. “Kami memiliki bukti berupa video dan memiliki saksi-saksi,” ujar Beni.
Ada pun kericuhan terjadi setelah mahasiswa dari IMM dan GPII membakar keranda mayat, yang mereka anggap sebagai simbolisasi buruknya pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Bentrok singkat sempat terjadi dan polisi menangkap seseorang dari kerumunan massa. Namun, akhirnya orang tersebut dilepas setelah dilakukan mediasi antara IMM dengan pihak kepolisian.
“Yang ditangkap anggota lembaga usaha milik IMM bernama Samsul. Tapi kami tidak tahu alasan polisi menangkapnya.”
IMM menganggap pihak kepolisian yang memulai provokasi dan memicu kericuhan. Sebelumnya pada Rabu (20/5), massa IMM dan aliansi mahasiswa lain juga terlibat keributan dengan polisi.
Kericuhan itu terjadi saat rombongan yang terdiri atas IMM, Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis), Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) serta Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka berada di depan gedung MA, Jalan Medan Merdeka Utara.
Para pegiat yang awalnya tenang berubah menjadi “liar” dan melempari polisi yang berjaga dengan batu. Kejadian ini berlangsung selama kurang lebih 10 menit dan berhenti setelah polisi mundur ke dalam kawasan gedung MA.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu