Jakarta, Aktual.com – Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum mampu mendorong akselerasi sektor pertanian meski didukung anggaran puluhan triliun rupiah. Kondisi tersebut tercermin dari kinerja sektor pertanian yang dinilai masih berjalan datar sepanjang 2025.
“Kalau bicara makan bergizi gratis, itu kan berbasis pangan. Seharusnya sektor pertanian dan agroindustri bisa terakselerasi, tetapi yang terlihat justru masih biasa-biasa saja,” ucapnya dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, pertumbuhan sektor pertanian sebesar 5,33 persen belum mencerminkan perbaikan struktural yang kuat karena terjadi dari basis pertumbuhan yang rendah pada periode sebelumnya. Menurutnya, tekanan faktor iklim dan gejolak harga komoditas membuat kinerja sektor ini belum cukup solid untuk menjadi penggerak ekonomi.
Kondisi sektor pertanian tersebut, kata Heri, mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam struktur pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai 5,11 persen masih belum ditopang oleh sektor-sektor produktif yang berkelanjutan.
“Kalau pertumbuhan ekonomi lebih banyak dibantu stimulus dan faktor musiman, risikonya adalah ketika dorongan itu berhenti, ekonomi bisa kembali melemah,” tutur peneliti INDEF tersebut.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi terutama didorong oleh ekspor dan konsumsi lembaga nonprofit, sementara konsumsi rumah tangga dan investasi tumbuh di bawah rata-rata nasional. Kondisi tersebut menunjukkan transformasi ekonomi dan penguatan mesin utama pertumbuhan belum berjalan optimal.
Lebih lanjut, lemahnya akselerasi sektor pertanian dan industri juga berdampak pada terbatasnya penyerapan tenaga kerja, terutama di sektor formal. Ia menegaskan bahwa tanpa perbaikan struktural dan peningkatan produktivitas, baik MBG maupun stimulus lainnya berisiko hanya memberikan efek jangka pendek bagi perekonomian.
(Nur Aida Nasution)
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi















