Jakarta, Aktual.com – Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim (DSAI) meluncurkan konsep Malaysia MADANI. Yakni sebuah kerangka visi baru bagi negara, upaya nirmala yang terintegrasi dan holistik, didukung oleh kebijakan yang berorientasi ke depan untuk mewujudkan masyarakat yang beradab, maju, terampil dan inklusif.

“Tujuan kami adalah mengubah Malaysia menjadi negara yang berkelanjutan, sejahtera, kreatif, saling menghormati, dan santun berdasarkan rasa saling percaya. Kata kunci dari visi ini adalah MADANI, yang pada dasarnya merupakan kepercayaan antara pemerintah dan rakyat berdasarkan transparansi dan kerjasama,” ujar Anwar Ibrahim dalam siaran pers yang diterima wartawan di Jakarta, Minggu (22/1).

PM ke-10 Malaysia ini merincikan apa yang dimaksud MADANI. Dimana kata tersebut mewakili enam prinsip M (keMampanan), A (kesejAhteraan), D (Daya cipta), A (hormAt), N (keyakiNan) dan I (Ihsan) yang merupakan pilar dalam memetakan arah Malaysia menuju negara bangsa maju dan perdamaian .

“Itu ditulis sebagai hasil dari pengalaman lebih dari empat dekade di bidang pelayanan publik, mengepalai beberapa kementerian di pemerintahan, memimpin beberapa badan internasional, serta menjadi pendidik di beberapa universitas bergengsi di dunia,” jelas Anwar.

Anwar menambahkan kendaraan utama yang menjadi inti MADANI Malaysia akan didukung oleh empat Inti Strategis Utama yaitu Membangun Kembali Perekonomian, Menjamin Kesejahteraan Manusia, Mereformasi Institusi dan Legislasi Demokrasi dan Membangun Administrasi yang Amanah.

“Untuk menjamin kesinambungan dan kelancaran agenda ini, tiga strategic enabler akan berfungsi sebagai motor penggerak, yaitu Digitalisasi Pelayanan Rakyat, Pemberdayaan Talenta Terbaik Bangsa dan Pemberdayaan Manajemen Proyek Strategis,” jelasnya lagi.

Dengan semangat, ketelitian keinginan dan tekad Malaysia MADANI, Anwar mengajak semua pihak untuk mendukung konsep ini demi kebaikan bersama.

“Kita luncurkan MADANI bukan sekedar sebagai ‘slogan’ baru, tetapi sebagai upaya kita untuk membawa perubahan bagi masyarakat dan sistem nasional. Sekarang adalah kesempatan bagus untuk mewujudkan ide yang telah saya ajukan lebih dari dua dekade lalu,” tegasnya.

Pakar Bidang Pemikiran Islam dari Institut Pemikiran dan Peradaban Islam Antarabangsa-Universiti Islam Antarabangsa (ISTAC-IIUM), Profesor Emeritus Datuk Dr Osman Bakar mengatakan istilah ‘Negara MADANI’ yang dicetuskan Anwar Ibrahim tidak sama dengan konsep Islam Hadhari yang dicetuskan oleh PM ke-5 Malaysia Tun Abdullah Ahmad Badawi.

“Ada beberapa perbedaan antara dua gagasan itu. Perbedaanya mudah saja dipahami menunjukkan bahwa kedua-duanya merujuk kepada ide peradaban dan keberedaban meskipun istilah peradaban tidak digunakan dalam gagasan Malaysia MADANI yang diinspirasikan oleh DSAI,” jelasnya.

Dia menjelaskan konsep Islam Hadhari digagas Badawi adalah ingin memperluas pemahaman umat Islam tentang agama mereka dari melihatnya hanya sebagai ajaran tentang ibadah, ritual, hukum halal dan haram untuk melihatnya sebagai ajaran yang lebih luas yang mencakup masalah pembangunan peradaban.

Sedangkan konsep Malaysia MADANI merupakan visi nasional sekaligus filosofi sosial yang menggariskan enam prinsip dasar sebagai landasan pembangunan Malaysia yang lebih maju dan adil.

“Kita menemukan bahwa kata MADANI digunakan di sini untuk menyebutkan kumpulan ciri-ciri utama negara Malaysia di bawah Pemerintahan Anwar Ibrahim. Namun demikian, ciri utama Malaysia MADANI juga menjadi gagasan inti dalam konsep dan filosofi madani dalam pemikiran Islam tradisional seperti yang dijelaskan oleh al-Farabi,” paparnya.

Dia kembali menjelaskan bahwa DSAI menyadari konsep dan filsafat madani dalam sejarah pemikiran Islam. Inilah pemikirannya yang menarik. Dengan menggunakan istilah MADANI Malaysia sebagai nama gagasan sosialnya, ia sekaligus berhasil menghubungkan gagasan keberadaban dengan isu-isu utama yang dihadapi Malaysia kontemporer dan dengan filsafat madani dalam pemikiran Islam klasik.

Saya yakin bahawa konsep MADANI yang dibawa oleh DSAI lambat laun akan dipahami oleh masyarakat awam. Yang diperlukan ialah memahamkan tentang enam prinsip yang terkandung dalam konsep tersebut. Prinsip-prinsip ini bukanlah ide baru. Tetapi perlu ditegaskan sekarang adalah pemahamanya secara menyeluruh dimana keenam prinsip itu saling memiliki keterkaitan antara satu sama lain dan juga diamal dan dipraktikkan secara menyeluruh. Perlu ada ajakan yang berkelanjutan untuk menerangkan gagasan Malaysia MADANI oleh semua kementerian,” tegasnya.

Terakhir dia menjelaskan, sebagai visi nasional dan filosofi sosial yang praktis Malaysia MADANI cukup baik untuk dijadikan pedoman bagi masyarakat dan negara untuk mencapai kemajuan yang seimbang. Namun, tantangan besar yang harus dihadapi adalah tantangan untuk mengisi dan memahami. Masing-masing dari enam prinsip dan karakteristik MADANI perlu dihayati dalam praktik. Pendidikan, baik formal maupun nonformal, merupakan strategi terbaik untuk menjawab tantangan tersebut.

(Wisnu)