Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuliskan pesan pada dinding di Gang Dolly saat peresmian daerah tersebut menjadi kampung wisata, di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (21/2). Kawasan yang dulu dikenal sebagai daerah lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara tersebut resmi menjadi kampung wisata yang memiliki beragam wahana wisata mulai dari Kampung Bermain, Kampung Hijau, Kampung Seni, Kampung Oleh-oleh dan Kampung Kuliner. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/ama/16

Jakarta, Aktual.com – Aliansi Pemuda Surabaya-Jakarta (APSJ) mengatakan ada empat hal yang mendorong Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini diusung sebagai bakal calon (Balon) Gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti.

“Kalau diberikan amanah untuk DKI setidaknya ada 4 hal, yakni pertama dukungan masyarakat (Surabaya-Jakarta), kedua, dukungan partai politik, ketiga kesediaan Ibu Risma untuk maju, dan keempat adalah takdir,” kata Kordinator APSJ, Imam Budi Utomo usai menyerahkan surat permohonan pengusungan Risma di Pilgub DKI, Jakarta Pusat, Minggu (7/8).

Bahkan, sambung Imam, ketika takdir sudah menetukan bahwa Risma masuk ke Jakarta tidak ada yang bisa menahannya.

“Dan ini tidak akan lepas, dan ketika tuhan sudah menakdirkan Risma untuk di Jakarta maka terjadi lah,” tandasnya.

Imam juga mengatakan bahwa Tri Rismaharini sudah terbukti bekerja lebih mengedepankan kemanusiaan dalam setiap kebijakannya sebagai kepala derah, ketimbang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.

Alasan itulah yang membuat sejumlah masyarakat baik di Surabaya dan Jakarta terus mendesak agar Risma masuk ke Jakarta dan berkompetisi di Pilkada DKI 2017 nanti.

“Ibu Risma itu tipikal seorang pekerja dan memegang teguh amanah yang diberikan. Sehingga selama kami di Surabaya di pimpin Ibu Risma, beliau ini sangat memperhatikan sekali penyandang kesejahteraan sosial, itu dibuktikan dengan sikap beliau yang sangat Humanis, mulai dari lansia, fakir miskin, yatim piatu diurus,” terang dia.

Bahkan, kata Imam, hingga permasalahan Human Tracffiking, seperti Dolly (tempat prostitusi di Surabaya) hanya Risma yang berani menutupnya.

Risma, sambung dia, punya cara jitu untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan karena itu ada sebagaian masyarakat yang tetap menginginkan Risma untuk menyelesaikan masa jabatannya.

Ketika ditanyakan langkah Ahok yang juga bisa menggusur lokalisasi prostitusi di Kalijodo, Jakarta Barat? Imam mengatakan bahwa apa yang dilakukan Ahok tidak bisa disamakan dengan sikap Risma menutup Dolly.

“Kalau persoalan Àhok berantas Kalijodo itu ada kepentingan tersendiri, yang kita tau ada kepentingan pengembang (reklamasi), nah Risma saat ini di Surabaya, misalnya menutup Dolly, masyarakat justru antusias menerima dengan baik, dan tidak ada kepentingan apa-apa,” sebutnya.

“Bahkan lahannya dibeli oleh Pemkot, dan digunakan untuk memperdayakan masyarakat untuk industri UKM di sana,” tandas dia.

(Novrizal Sikumbang)

(Arbie Marwan)