Foto: KH. Muhammad Danial Nafis MA, di Maqbarah Sidi Ahmad Ajibah Maroko

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ ” حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
(Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lainnya semisal itu pula). Hadits ini termasuk hadits jawamiul kalim (singkat padat dan jelas).

Faedah, Tanbih dan Hikmah Hadits

Tanda muslim yang cerdas adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Ia tidak akan ridha jika waktunya terbuang untuk suatu hal yang sia-sia. setiap waktu dan kesempatan ia gunakan untuk kebaikan dan ibadah kepada Allah. Jadi sifat wara’ bukan hanya menjauhi yang syubhat saja, tetapi juga meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Tidak bermanfaat disini maksudnya jauh dari irsyadat (bimbingan) dan ridha Allah.

Segala hal dapat bermanfaat jika kita mengedepankan 5 hal:
1. Ridha Allah swt.
2. sikap malu (istihyaa’)
3. Menahan amarah.
4. Berbicara yang baik atau diam.
5. Mencintai sesama muslim.

Kelima hal ini akan dijelaskan lebih dalam pada hadits-hadits berikutnya. Jadi memang hadits Arbain Nawawi ini saling berkaitan satu sama lain. Maka harus tuntas ngajinya supaya utuh pemahamannya.

Semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga hanya ada dua pilihan. Amr ma’ruf, yakni memerintahkan kepada kebaikan baik dengan perbuatan ataupun perkataan dan dzikrullah.

Adapun bagi salik agar waktunya tidak habis oleh suatu hal yang tidak bermanfaat, maka harus menyibukkan dirinya dengan amalan yang ada dalam koridor bimbingan guru.

Jika ada pertanyaan, harus mana yang diutamakan, kebermanfaatan dunia atau akhirat?

Jika kita cermat, sebenarnya kebaikan akhirat juga memberi kebaikan dunia. Saat kita memilih kebaikan akhirat, dunia akan mengikuti. Karena kehidupan dunia merupakan sarana menuju kehidupan akhirat. Dalam sebuah hadits disebutkan:

الدنيا مزرعة الاخرة

Artinya : ”Dunia adalah ladang akhirat.”

Dalam hadits lain di sebutkan :

الدنيا بلاغ الى الاخرة

Artinya : ”Dunia itu dapat menghantarkan kepada kehidupan akhirat”.

Ingat, urusan dunia atau akhirat itu pembedanya cuma pada niatnya, motivasi kita dalam hidup ini apa? Sangat disayangkan jika kita hanya sibuk dengan perkara-perkara keduniaan, terlena dengan kehidupan yang glamour dan bermegah-megahan namun tidak ada tuma’ninah (ketenangan).

Apa ini kebahagian yang sejati? kebahagiaan sejati itu ketika kita bisa kembali ke al-wathon al-asliy (Negeri Asal) sebagaimana di jelaskan Shulthonul Auliya Al-Imam Syeikh Abdul Qadir al-Jilani qs. yakni jannatul qurbah (surga kedekatan) yang didalamnya kita bisa memandang wajah Allah ta’ala.

Surga yang tidak pernah dipandang mata dan terdengar oleh telinga bahkan terbesit dalam pikiran. inilah kampung halaman sejati dan cita-cita tertinggi kita. Bukan hanya surga darojaat yang digambarkan dengan kenikmatan-kenikmatan jasmani, para bidadari dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya.

Nasihat Tentang Sabar dan Marah

As-Shobuur adalah asma Allah yang agung, ketika kita bisa sabar, artinya kita mendapat keagungan dan karunia Allah. Hati butuh dilembutkan agar bisa bersabar, dan cara termudah tercepat untuk itu adalah bi dzikrullah;

1. Perbanyak berdzikir dengan asmaa Ya Latiif, Ya Shobur. yang Maha Lembut dan Melembutkan dan yang Maha Sabar.

2. Memunculkan Haibah (wibawa) bukan Emosional, dengan menyadari sebagai hakiki hamba. Keberanian hakiki bukan menunjukkan emosi /kedirian tapi ketertundukan sebagai hamba Allah swt.

Marah adalah kondisi saat tercabutnya energi ketuhanan dalam hati kita, sehingga hati menjadi kosong dan diambil alih oleh perkawinan antara nafsu dan iblis, yaitu amarah (Ghodob).

Diantara tanda dangkalnya ruhani, adalah saat kemarahan cepat memuncak. banyak dari kita begitu cepat marah kepada seseorang atau suatu keadaan. Orang yang ruhaninya sudah dalam, tentu tidak akan mudah terpancing emosi.

Apalagi di situasi seperti sekarang ini. Bukan hanya wabah yang sedang melanda, tapi juga krisis sudah di depan mata. Terutama soal uang, orang-orang akan cepat marah dan stress karena tidak dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan seperti biasanya.

Krisis dan kefaqiran itu banyak membawa orang kepada kekufuran. semoga Allah memberikan kita kesabaran dan kesejukan iman untuk menghadapi wabah dan krisis ini.

Dan yang paling penting untuk menjaga diri dari amarah, perlu dibangun kesadaran terus-menerus bahwa kita adalah hamba. Yang harus tunduk pada kehendak, perintah dan ketentuan Allah swt. Caranya tentu dengan banyak berdzikir.

Berdzikirlah bukan hanya saat ada masalah saja, saat ada Hajat kebutuhan baru dzikir. tapi dilakukan setiap saat. dan ini harus dilatih sebagaimana kita membiasakan wirid asasi dalam thoriqoh.

Wallahu A’lam bisshawaab

RESUME KAJIAN DHUHA KITAB ARBAIN NAWAWI BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS Hafizhahullah
(Via zoom Cloud Meeting 06.40 – 08.35 WIB Jumat 16 Sya’ban 1441 / 10 April 2020)