Winnipeg, aktual.com – Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan pada Senin (27/6) kembali saling tuduh dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev terkait pertikaian di Nagorno-Karabakh.

Pashinyan mengatakan tetangganya itu gagal mengambil tindakan atas perjanjian untuk mengakhiri 30 tahun permusuhan atas wilayah Nagorno-Karabakh, yang merupakan wilayah pegunungan di dalam Azerbaijan yang dikendalikan sejak 1990-an oleh etnis Armenia.

“Azerbaijan menolak untuk berbicara, tetapi secara terbuka menuduh Armenia menolak untuk berbicara,” kata Pashinyan dalam sebuah konferensi pers daring, seperti dikutip kantor berita Armenia Armenpress.

“Penilaian saya adalah satu: hal itu dilakukan untuk melegitimasi perang baru melawan Armenia,” ujar Pashinyan.

Perselisihan atas Nagorno-Karabakh kembali berkobar pada 2020 menjadi sebuah perang selama enam pekan di mana pasukan Azeri mendapatkan kembali sebagian besar wilayah itu.

Armenia dan Azerbaijan sepakat untuk mengerjakan rencana perdamaian setelah Rusia menengahi keduanya untuk melakukan gencatan senjata.

Pashinyan mengatakan Azerbaijan memolitisasi upaya perdamaian, termasuk masalah pembangunan sebuah jalur kereta api melalui Armenia antara Azerbaijan dan kantong barat Nakhichivan, seperti dikutip oleh media Rusia dan Armenia.

Setelah menjadi sasaran protes besar dalam beberapa pekan terakhir yang menuduhnya membuat terlalu banyak konsesi di Karabakh, Pashinyan mengatakan lebih dari 50 prajurit Armenia menghadapi tuduhan makar.

Mengenai tuduhan terhadap perwira Armenia, kantor berita Rusia TASS melaporkan bahwa Pashinyan mengatakan kepada wartawan bahwa “banyak urusan sekarang terjadi di balik pintu tertutup dan publik tidak menyadarinya … Lebih dari 50 prajurit dituduh melakukan spionase dan pengkhianatan.”

Namun, TASS tidak memberikan keterangan rinci lebih lanjut dalam laporannya itu.

Walaupun Pashinyan dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev telah mengadakan serangkaian pertemuan dalam 18 bulan terakhir, kemajuan menuju perjanjian damai antara Azerbaijan dan Armenia masih berjalan lambat.

Aliyev pekan lalu menuduh Armenia tidak mau bertindak untuk perjanjian damai.

Armenia gagal mematuhi “kewajiban hukumnya” untuk mengizinkan akses gratis untuk pembangunan jalur kereta api, menurut laporan media Azerbaijan yang mengutip pernyataan Aliyev setelah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Sementara itu, Pashinyan mengatakan Aliyev menghalangi kemajuan dalam pembahasan perdamaian dengan menghubungkannya dengan persoalan kembalinya tawanan perang ke Armenia.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)