Ilustrasi Kapal Ekspor

Surabaya, Aktual.com – Sekjen Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jawa Timur, Winyoto Gunawan menegaskan bahwa saat ini waktu yang tepat memacu kinerja ekonomi dalam negeri, termasuk dengan menggenjot ekspor, karena adanya tren penurunan penderita COVID-19.

“Kami sangat optimistis jika pandemi bakal teratasi dan sebentar lagi akan berubah menjadi endemi. Dan yakin tahun ini akan menjadi tahun pemulihan ekonomi,” kata Winyoto, kepada wartawan di Surabaya, Sabtu (23/4).

Ia mengatakan, meski membaik namun beberapa pengusaha masih sulit bangkit, karena tidak mudah memulainya kembali karena kendala permodalan.

“Dengan beberapa kebijakan pemerintah yang telah dikeluarkan, kami tetap optimistis perekonomian akan semakin baik dari berbagai sektor industri hingga ekspor, meski beberapa pelaku usaha masih sulit bangkit,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim kinerja ekspor non migas Jatim pada Maret 2022 tercatat sebesar 2,09 miliar dolar AS, atau naik 13,56 persen dibandingkan Maret 2021 yang hanya mencapai 1,84 miliar dolar AS.

Permintaan sejumlah barang juga mengalami kenaikan permintaan ekspor di antaranya bahan kimia organik, lemak minyak hewan/nabati, tembaga, perhiasan/permata, serta ikan dan udang.

Sedangkan ekspor yang turun tercatat alas kaki, garam, belerang, kapur, disusul buah-buahan, kayu dan barang dari kayu, serta berbagai produk kimia.

Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng (BjLAS) IISIA, Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Henry Setiawan, mengakui tren kenaikan ekspor juga dialami untuk produk besi dan baja, khususnya di kuartal I-2022.

“Seperti yang kami ketahui, China melakukan lockdown akhir-akhir ini sehingga produksinya mayoritas digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dibandingkan ekspor, tetapi negara di luar berlomba-lomba untuk ekspor ke AS dan Eropa, karena harganya yang tinggi, dan Indonesia juga dapat imbasnya bisa memasok barang ke sana, sehingga ekspornya naik,” katanya.

Ia berharap, tren positif kenaikan ekspor ini menunjukkan adanya sinyal baik dalam pemulihan ekonomi menuju endemi.

(Antara)

(A. Hilmi)