Beranda Life Atasi PTS Tidak Sehat, Wakil Ketua Komisi X Usulkan Penggabungan Perguruan Tinggi

Atasi PTS Tidak Sehat, Wakil Ketua Komisi X Usulkan Penggabungan Perguruan Tinggi

Pimpinan Komisi X Dede Yusuf (tengah) berbicara dalam Forum Legislasi dengan topik 'RUU Perfilman' di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/3/2016). Pemerintah dalam waktu dekat segera merampungkan pembahasan revisi Daftar Negatif Investasi (DNI). Hal tersebut untuk membuka kesempatan yang lebih besar bagi pemodal asing berinvestasi lebih di sektor usaha di dalam negeri. Salah satu sektor yang turut direvisi adalah investasi di sektor industri perfilman, mulai dari produksi, distribusi, hingga eksebisi. Foto: Aktual/Junaidi Mahbub

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf mengusulkan pemerintah untuk melakukan penggabungan perguruan tinggi untuk mengatasi masalah kurang sehatnya perguruan tinggi swasta (PTS) yang mencapai sekitar 90 persen dari total kampus yang berjumlah 3.128 di seluruh Indonesia. Meskipun demikian, Dede juga mengungkapkan bakal adanya masalah baru dalam proses penggabungan. Permasalahan pertama, ungkap dia, kesenjangan antara PTS dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kesenjangan dan dikotomi PTS-PTN tersebut terlihat dari pola belanja negara khususnya di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Pembinaan atau bantuan yang diperuntukkan bagi PTS kurang dari enam persen dari anggaran. Sementara PTN menerima kurang lebih 94 persen dari total anggaran.

“Dikotomi ini seharusnya tidak terjadi, mengingat PTN dan PTS memiliki tanggungjawab yang sama dalam meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi,” kata Dede dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Perguruan Tinggi Komisi X DPR RI dengan dengan Prof. Dr. Thomas Suyatno, Prof. Dr. Dedi Mulyasana, M.Pd., Prof. Dr. Ir. Purbayanto dan Prof. Dr. Erman Anom, M.M., Ph.D, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (19/9) kemarin.

Menurut Dede, kondisi mayoritas kampus-kampus swasta di Indonesia dalam keadaan tidak sehat dan mengalami kesulitan dalam operasional. Hanya sekitar 10 persen dari perguruan tinggi swasta yang beroperasional dengan baik. Selebihnya, 90 persen justru mengalami persoalan yang cukup serius dalam menjalankan kegiatan tri dharma perguruan tinggi. Selain itu, Dede juga menyoroti hal lainnya seperti kualitas pendidikan.

Politisi Demokrat ini juga menjelasan tantangan PTS ke depan adalah proses pendidikan yang terjamin, namun dengan manajemen mutu yang baik. Terlebih, saat ini PTS mendidik sebanyak 72 persen mahasiswa, sehingga perhatian pada kualitas perlu ditingkatkan.

“Upaya-upaya PTS untuk meningkatkan sarana dan prasarana, mutu dosen, mutu lulusan harus dapat didukung pemerintah,” ungkapnya seperti dikutip dari situs DPR.

Pasalnya, kondisi dosen yang merupakan tulang punggung pendidikan masih banyak yang memprihatinkan. Sekitar 49 persen dosen masih berpendidikan Strata 1 dan hampir 50 pesen dosen berstatus tidak tetap atau berinduk lebih dari dua organisasi. Dede menilai hal itu menyebabkan pekerjaan dosen menjadi tidak optimal, sehingga perlu peningkatan kompetensi dan kesejahteraan.

Adapun terkait masalah relevansi pendidikan, Dede menilai dunia industri kini membutuhkan banyak sarjana berbasis teknik untuk diterjunkan ke industri manufaktur. Namun, perguruan tinggi justru banyak menawarkan pendidikan berbasis sosial.

(Megel Jekson)