Jakarta, Aktual.co — Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah 11 poin menjadi Rp13.132 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.121 per dolar AS.

“Mata uang rupiah bergerak melemah setelah sempat menguat terhadap dolar AS pada sesi pagi tadi, data tenaga kerja non-pertanian Amerika Serikat yang naik menjadi salah satu penopang mata uang negeri Paman Sam itu,” ujar Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Senin (11/5).

Ia menambahkan bahwa sebagian pelaku pasar uang juga cenderung menahan posisinya untuk masuk ke mata uang berisiko menjelang pertemuan menteri keuangan tingkat tinggi Eropa untuk membahas krisis utang Yunani.

“Investor cenderung enggan mengoleksi mata uang berisiko, salah satunya rupiah karena khawatir hasil pertemuan menteri keuangan tingkat tinggi itu belum menghasilkan solusi,” katanya.

Kendati demikian, Ariston Tjendra mengatakan penguatan dolar AS itu masih cenderung terbatas seiring dengan adanya ekspektasi positif dari pemerintah yang optimistis keadaan ekonomi Indonesia pada semester kedua akan lebih baik lagi. Melalui percepatan infrastruktur dan realisasi belanja pemerintah, perekonomian Indonesia akan segera membaik.

“Anggaran infrastruktur yang sudah cair meyakinkan pasar bahwa pemerintah akan merealisasikan beberapa pembangunan infrastruktur,” katanya.

Ia menambahkan bahwa di tengah situasi perekonomian global yang sulit, Indonesia masih mengalami pertumbuhan cukup baik di Asia Tenggara. Dengan berjalannya penganggaran APBN, perbaikan ekonomi Indonesia akan sesuai target.

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin (11/8) mencatat nilai tukar rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.116 dibandingkan hari sebelumnya (8/5) Rp13.177.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka