Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Periode 2003-2007 Taufiequrachman Ruki menyampaikan kata pengantar saat acara bedah buku Bedah buku "Mengapa Kita Harus Kembali Ke UUD45" dengan pembicara Jend TNI (Purn) Tyasno Sudarto, Haris Rusli Moti, Salamudin Daeng, M. Hatta Taliwang, dan Edwin Sukowati, yang di gelar, Ballroom Djakarta Teater, Jakarta, (15/2/209). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Anggota Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI) Taufiequrachman Ruki ingin pemerintah mengembalikan Indonesia menganut UUD 1945 yang asli. 

Demikian disampaikan Taufiequrachman saat membuka acara bedah buku berjudul “Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 45” di Djakarta Theatre Ball Room, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (15/2). 

Menurut dia, alasan tepat melakukan hal tersebut ada didalam Puisi Karya Kahlil Gibran berjudul “Kasihan Bangsa”.

Awalnya mantan ketua KPK itu mengaku tidak mengerti dengan puisi Kahlil Gibran itu. Ia bertanya kepada audience mengapa puisi itu sangat mirip dengan keadaan negara Indonesia saat ini. 

“Yang saya tidak tahu dia terinspirasi dari mana, kok puisinya mirip dengan keadaan bangsa kita sekarang,” ungkapnya saat memberikan sambutan.

Ia menilai keadaan bangsa Indonesia saat ini sudah tidak sesuai dengan dasar negara yang dibuat oleh para Founding Father, yakni UUD 1945. 

“Sekarang tahun politik, tapi buat yang curiga-curiga itu, saya katakan bahwa kegiatan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pemilu 2019 apakah pileg atau pilpres. Karena itu buat saya sikap saya adalah merdeka. Bagaimana Indonesia kembali ke UUD 45,” katanya.

Karena itu, ia meminta kepada pemerintah untuk segera mengembalikan UUD 1945 kepada naskah aslinya. Sebab menurutnya, bangsa Indonesia sekarang ini telah mengalami kemunduran, sebagaimana yang dituliskan Kahlil Gibran dalan karya puisinya yang berjudul Bangsa Kasihan.

“Kita harus kembali ke UUD 1945 guna membereskan negeri ini. Mengapa kita harus kembali? Saya akan sampaikan melalui puisi karya Chailil Gibran itu yang berjudul Bangsa Kasihan,” dia menambahkan.

Berikut Puisi Kahlil Gibran berjudul “Bangsa Kasihan”

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaianyang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak ia panen,dan meminum susu yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa yang menjadikan orang dungu sebagai pahlawan dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur, sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan, tidak sesumbar kecuali di reruntuhan, dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigal, filosofnya gentong nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan, Namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk manyambut penguasa baru lain, dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu, dan orang kuatnya masih dalam gendongan

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan, Menganggap dirinya sebagai bangsa.

()