Jakarta, Aktual.com – Bak film-film aksi Hollywood, pasukan Delta Force, unit misi khusus teratas militer AS, tepat pukul 22:46 EDT Jumat, atau pukul 09:46 WIB, Sabtu, 3 Januari 2026, mulai bergerak memasuki Caracas, ibukota Venezuela, usai mendapat perintah langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pergerakan pasukan khusus Angkatan Darat AS ini didukung sekitar 150 pesawat berbagai jenis, seperti pembom, jet tempur, helikopter, dan pesawat pengintai, yang bertolak dari kapal induk AS di laut Karibia.
Mereka sudah berlatih berbulan-bulan untuk melakukan penyergapan terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam sebuah misi bernama “Operasi Absolute Resolve”.
Di bagian sisi benua lain, Trump memantau siaran langsung operasi tersebut di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, didampingi Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Ledakan keras terdengar di Caracas sekitar pukul 02:00 waktu setempat, dan kepulan asap terlihat membubung di atas kota. Menandai penyergapan langsung terhadap Maduro. Saat serangan udara berlangsung, anggota Delta Force, dilengkapi senjata berat dan membawa pemotong logam, bergerak cepat ke ‘safe house’ Maduro.
Pasukan tersebut tiba di lokasi Maduro tak lama setelah serangan dimulai pada pukul 02:01 waktu setempat, menurut Jenderal Dan Caine, perwira tinggi militer AS. “Pasukan penangkapan masuk ke kompleks Maduro dan bergerak dengan cepat, presisi, dan disiplin,” kata Jenderal Caine.
“Mereka hanya menerobos masuk, dan mereka menerobos tempat-tempat yang sebenarnya tidak bisa diterobos, tahu kan, pintu baja yang dipasang di sana khusus untuk tujuan ini,” kata Trump.
Akhirnya, selama dua jam dua puluh menit melalui udara, darat, dan laut, sekitar pukul 04:20 waktu setempat pada Sabtu, helikopter meninggalkan wilayah Venezuela. Maduro dan istrinya berada di dalamnya.
Mereka menjadi tahanan Departemen Kehakiman AS dan dalam perjalanan menuju New York, di mana mereka diperkirakan akan menghadapi tuntutan pidana. Sekitar satu jam kemudian, Trump mengumumkan berita penangkapan, mengejutkan banyak orang di Washington dan di seluruh dunia.
“Maduro dan istrinya akan segera menghadapi kekuatan penuh keadilan Amerika,” katanya.
Narkoba atau Sumber Daya Alam?
Trump beralasan menangkap Maduro karena negara tersebut bertanggung jawab atas terorisme narkoba, perdagangan narkoba dan kejahatan lainnya. Tuduhan-tuduhan tersebut telah ditolak Caracas.
Lalu apa motif sebenarnya hingga Trump, tanpa pemberitahuan ke Kongres AS, melakukan operasi militer khusus untuk menyergap dan menangkap Maduro?
Sumber daya alam, terutama ladang minyak, Venezuela diyakini menjadi motif utama Trump. Tak lama usai menangkap Maduro, Trump berikrar untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela. Trump bahkan menyebut AS akan mengelola negara itu hingga transisi.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” kata Trump dikutip dari Reuters, Minggu (4/1/2026).
Trump juga menutup ekspor minyak mentah Venezuela setelah penangkapan Maduro. Trump mengatakan, militer AS akan tetap di Venezuela sampai tuntutannya dipenuhi sepenuhnya.
“Armada Amerika tetap siaga di posisinya, dan AS mempertahankan semua opsi militer hingga tuntutan AS sepenuhnya dipenuhi dan dipuaskan,” kata Trump.
Anggota Kongres Demokrat dari Massachusetts, Jake Auchincloss, mengungkapkan minyak menjadi alasan operasi militer AS, dan tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba.
“Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba. Narkoba tersebut sebagian besar dikirim ke Eropa, dan kokain bukanlah narkoba yang membunuh orang Amerika. Itu adalah fentanyl yang berasal dari China,” katanya kepada CNN pada Sabtu (3/1).
“Ini selalu tentang fakta bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia,” tambahnya.
Auchincloss juga menyoroti janji kampanye Presiden AS Donald Trump terhadap Chevron, perusahaan minyak AS yang beroperasi di Venezuela.
“Chevron memiliki kontrak dan izin dari Departemen Keuangan untuk mengeksploitasi cadangan minyak tersebut. Dan presiden ini menepati janji kampanyenya kepada perusahaan minyak besar AS,” kata Auchincloss.
Direktur Program Energi Amerika Latin Baker Institute Rice University, Francisco Monaldi, juga menyampaikan hal sama. Menurutnya, Chevron yang paling diuntungkan dalam kondisi saat ini. Perusahaan minyak AS lainnya juga disebut masih mempertimbangkan stabilitas politik di Venezuela.
“Perusahaan yang kemungkinan besar akan sangat tertarik untuk kembali adalah Conoco, karena mereka memiliki piutang lebih dari US$ 10 miliar, dan kecil kemungkinan mereka akan dibayar tanpa kembali ke negara itu,” katanya.
“Exxon, Conoco, dan Chevron, ketiganya tidak akan khawatir untuk berinvestasi dalam minyak berat, mengingat minyak tersebut sangat dibutuhkan di Amerika Serikat dan mereka kurang fokus pada dekarbonisasi,” tambah Monaldi.
Sumber Daya Alam Venezuela
Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Bumi, melebihi cadangan milik negara-negara Timur Tengah. Negara ini tercatat sebagai pemilik cadangan minyak mencapai 300 miliar barel, atau 17 persen dari cadangan global.
Besarnya cadangan minyak Venezuela ini diklaim Trump kini dikendalikan oleh AS. Kalau kita menghitungan dari harga minyak saat ini di US$ 57 per barel, total cadangan minyak Venezuela bernilai US$ 17,3 triliun.
Kalau dijual setengah harga, nilai-nya masih mencapai US$ 8,7 triliun, lebih besar dari total perputaran ekonomi alias PDB seluruh negara di dunia, kecuali AS dan China, bahkan sekitar empat kali PDB Jepang.
Isu strategis berikutnya adalah gas alam Venezuela, yang diperkirakan memiliki cadangan gas alam sekitar 200 triliun kaki kubik (TCF). Dengan harga gas alam global saat ini di kisaran US$4+ per seribu kaki kubik, nilai kasar cadangan gas ini bisa mencapai US$800 miliar.
Lebih dari sekadar minyak dan gas, Venezuela pada dasarnya adalah harta karun sumber daya alam yang menjadikannya aset strategis bernilai luar biasa bagi AS. Fokus pasar selama ini memang tertuju pada minyak. Namun jika ditarik lebih jauh, nilai Venezuela jauh melampaui sektor energi semata.
Cadangan bijih besi Venezuela sekitar 4 miliar ton, dengan nilai mendekati US$600 miliar. Sumber daya emasnya lebih dari 8.000 ton, terbesar di Amerika Latin. Dan, cadangan batu bara lebih dari 500 juta ton.
Belajar dari Irak
AS pernah menyerang Irak pada Maret 2003, dipimpin oleh Presiden George W Bush, satu partai dengan Trump, Partai Republik. AS menggunakan alasan utama dugaan kepemilikan Senjata Pemusnah Massal (WMD) oleh rezim Saddam Hussein, yang berujung pada penggulingan, penangkapan, dan eksekusi Saddam Hussein pada 2006,
Hingga pemerintahan transisi Irak terbentuk, tak ditemukan satupun senjata pemusnah massal tersebut. Usai invasi, AS membuka jalan bagi perusahaan minyak internasional untuk kembali beroperasi di Irak.
Sejumlah perusahaan minyak AS seperti ExxonMobil, serta perusahaan Barat lainnya termasuk BP (Inggris) dan Shell (Belanda/Inggris), mendapatkan kontrak untuk mengembangkan ladang minyak utama di Irak.
Kini usai AS menguasai Venezuela, diyakini perusahaan-perusahaan AS bakal mengeruk keuntungan dari sumber daya alam negeri tersebut.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi

















