Jakarta, Aktual.co — Bank DBS menyebut perekonomian dunia kini sedang berpindah dari kawasan Amerika dan Eropa ke Asia. Dipimpin oleh Cina (Asia 10), sepuluh negara di Asia termasuk India, Indonesia dan Korea selatan yang kini memiliki produk domestik bruto (PDB) yang hampir sama dengan AS yakni sekitar USD16 triliun. Kemajuan Asia ini memupus anggapan bahwa AS masih menjadi kekuatan terbesar ekonomi dunia yang menggerakkan pertumbuhan global.

“Terpuruknya konsumen di negeri adidaya itu semula memang dikhawatirkan akan membahayakan Asia yang perekonomiannya bertumpu pada produksi dan penjualan. Tapi kenyataannya, AS tidak lagi menjadi penggerak pertumbuhan global. Sebab AS telah kehilangan satu dari dua elemen kunci yang menjadi prasyarat, yakni kecepatan pertumbuhan,” kata Ekonom Bank DBS Gundy Cahyadi dalam acara press briefing bertajuk ‘Ekonomi dalam Ancaman Sandera Politik’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Kamis (16/10).

Dikatakan lebih lanjut bahwa AS tidak diragukan sebagai kekuatan besar ekonomi dunia. Namun, dengan kecepatan pertumbuhan sebesar 2,5 persen tak cukup untuk tetap menjadikannya yang terdepan. Pasalnya, dengan pertumbuhan sebesar itu hanya akan menciptakan permintaan baru sebesar USD400 miliar berdasarkan PDB-nya.

“Sementara Asia 10 akan menciptakan permintaan sebesar USD1 triliun per tahun berkat pertumbuhannya yang mencapai 6,25 persen. Dalam kurun lima tahun terakhir, permintaan baru yang tercipta sebesar 72 persen disumbang oleh Cina dan tiga kontributor lainnya yakni India (12%), Indonesia (12%) dan Korea Selatan (4%),” ucapnya.

Menurutnya, kalkulasi ini menempatkan Asia sebagai penggerak pertumbuhan global 2,5 kali lebih besar dari AS. Jarak antara keduanya pun akan kian lebar seiring dengan pertumbuhan Asia. Cina yang PDB per kapitanya mencapai USD7 ribu pada 2013 diperkirakan akan membawa Asia melompat jauh ke depan setidaknya hingga 2039 dan akan menggantikan AS sebagai kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

()

(Eka)