Jakarta, Aktual.co — Nelayan dengan kapal dibawah 30 grasston (GT) di Pantura Pekalongan kembali tidak melaut akibat dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sebesar Rp500. Nelayan yang sebelumnya memang tak mampu membeli bahan bakar, akhirnya semakin terpuruk dengan harga baru yang ditetapkan pemerintah.
Manajer KUD Makaryo Mino, Musaat Munaris mengatakan faktor pemicu nelayan tidak melaut rata-rata kapal di atas 30 GT. Sementara, kapal dibawah 30 GT belum ada gejolak atas kenaikan harga baru solar.
“Memang kapal-kapal dibawah 30 GT itu belum ada gejolak, tapi memberatkan nelayan untuk melaut. La wong harga kemarin saja nelayan tidak mampu membeli, apalagi ada kenaikan harga baru BBM subsidi,” ujar dia dihubungi Aktual.co, Senin (30/3).
Selain itu, kata dia, pemicu nelayan tak melaut karena cuaca melaut tidak memungkinkan. Kendati demikian, daya beli hasil tangkap ikan menurun dalam beberapa pekan.
Khusus kapal di atas 30 GT, lanjut dia, pemerintah menetapkan kenaikan harga industri baru sejak per tanggal 14 Maret 2015 lalu. Harga solar non subsidi naik sebesar Rp300 dari Rp8400 menjadi Rp8700.
“Kondisi ini agak berat, karena kondisi perikanan masih sepi. Mereka tidak punya jalan lain, kecuali yang mampu mereka melaut, sementara yang tidak mampu tidak melaut,” ujar dia.
Seperti diketahui, pemerintah per tangal 28 Maret 2015 menetapkan harga baru BBM jenis premium dan solar sebesar Rp500. Harga premium yang semula Rp6800 menjadi Rp7300 dan harga solar dari Rp6400 menjadi Rp6900.
Ditempat terpisah, pantauan Aktual.co di lapangan, kenaikan harga baru BBM terhadap sejumlah kebutuhan barang pokok relatif masih stabil. Beberapa harga kebutuhan pokok itu antara lain sayur mayur, bawang merah, bawang putih, dan bahan pokok lain.
“Harga sayuran masih stabil belumada kenaikan. Tapi memang dagangan lagi sepi,” beber Turminal penjual sayuran di pasar Banjarsari Pekalongan.
Artikel ini ditulis oleh:

















