Jakarta, Aktual.co — Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai bahwa tren penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir ini hingga menyentuh level 5.100 poin disebabkan oleh kondisi perekonomian global yang cenderung melambat.

“Penyebabnya karena isu pelemahan ekonomi global dan Indonesia terkena dampaknya. Namun, pada dasarnya perlambatan ekonomi Indonesia tidak sendirian,” ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito di Jakarta, Jumat (8/5).

Ia menambahkan bahwa melambatnya perekonomian global itu juga mempengaruhi kinerja emiten di dalam negeri sehingga menekan harga saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Tertekannya harga saham di BEI itu tercermin pada kinerja IHSG.

“Penurunan IHSG saat ini juga sejalan dengan penurunan kinerja bursa di dunia. Kalau kita hitung dari pertengahan April lalu hingga saat ini, kinerja bursa saham dunia tidak ada yang menonjol sendirian,” ucapnya.

Kendati IHSG BEI sedang berada dalam area pelemahan, namun menurut Ito Warsito, kondisi pasar saham Indonesia masih relatif stabil, pelaku pasar asing juga masih mencatatkan beli bersih di sepanjang tahun ini.

Dalam data BEI, pelaku pasar asing membukukan beli bersih atau “foreign net buy” sebesar Rp10,548 triliun per 7 Mei 2015.

“Potensi investor asing melakukan penjualan sudah lewat moment-nya. Apalagi saat ini kondisi pasarnya sudah stabil,” katanya.

Ia menambahkan bahwa aksi lepas saham oleh investor asing dalam beberapa hari terakhir ini karena nereka ingin memegang dana tunai seraya mengevaluasi pasar dan sektor mana yang berpotensi untuk di investasikan kembali.

“Ini reaksi wajar. Investor kalau sudah untung akan merealisasikan keuntungan,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan bahwa�penurunan kinerja saham di dalam negeri tidak perlu disikapi dengan panik.

“Pasar saham kan investasi jangka panjang, kalau ada kondisi yang sesaat itu ya tidak perlu disikapi dengan�panik,” katanya.

Menurut dia, penurunan IHSG dalam beberapa terakhir ini merupakan fluktuasi jangka pendek, kondisi itu tidak bisa menjadi patokan kinerja pasar modal.

“Lihat saja tren IHSG selama lima tahun terakhir, kalau ada naik-turun dalam periode yang sempit jangan jadi patokan,” katanya.

Sementara itu, menjelang penutupan perdagangan saham pada Jumat (8/5) ini, IHSG BEI terpantau bergerak menguat sebesar 38,64 poin (0,75 persen) menjadi 5.189,12 poin.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka