Jakarta, Aktual.co — Di Indonesia, perayaan Tahun Baru China alias Imlek selalu diidentikkan dengan hujan bahkan angin kencang. Banyak mitos dan kepercayaan yang beredar di masyarakat terkait perayaan ini, beberapa kalangan menganggap bahwa hujan merupakan salah satu berkah hari raya Imlek.

Namun, benarkah fenomena hujan saat imlek merupakan pertanda keberkahan?

Di tempat asalnya sendiri, China, Imlek merupakan acara sakral bagi mereka yang menganut ajaran Tri Dharma. Pada hari besar ini, para umat agama tersebut merayakan syukur atas datangnya musim semi yang penuh harapan untuk menggantikan musim dingin.

Ketika para penganut ajaran ini menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, upacara Imlek pun tidak lupa ikut dirayakan. Namun, karena perbedaan wilayah geografis, musim yang dialami pun berbeda.

Di Indonesia sendiri misalnya, setiap Hari Raya Imlek dilaksanakan, selalu bertepatan dengan musim hujan. Sehingga, tidak mengherankan jika Imlek di Indonesia sering diwarnai dengan munculnya angin dan hujan besar-besaran.

Menurut pantauan BMKG sendiri, bada bulan Februari yang bertepatan dengan Hari Raya Imlek ini hujan masih mungkin akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Tercatat seluruh daerah mulai dari Sabang hingga Merauke berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga berat.

Jadi, tidaklah mengherankan apabila ketika Imlek dirayakan pada tanggal 19 Februari ini terjadi fenomena alam tersebut. Hal ini juga tidak ada hubungannya dengan cerita-cerita mistis yang beredar tentang hujan dan angin ribut yang terjadi setiap kali Imlek.

Pun menurut Ko Eng, Wakil Ketua Yayasan Amurva Bhumi di Vihara Amurva Bhumi, Kuningan, Jakarta Selatan, hujan saat imlek semata-mata hanya karena faktor cuaca yang memang sedang masuk dalam musim hujan.

“Berkah imlek tidak ada hubungannya dengan hujan, ya kalau harinya pas jatuh musin hujan, ya hujan saja,” ujarnya kepada wartawan, (19/2).

Imlek merupakan hari besar bagi mereka yang beragama Buddha Mahayana, Khong Hu Cu, dan Tao. Dalam acara keagamaan ini, para umat tersebut mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas datangnya berkah musim semi yang terjadi di belahan bumi utara, hal ini kemudian diwujudkan juga dengan lahirnya tahun baru bagi penganut agama tersebut.

Artikel ini ditulis oleh: