Ilustrasi- Kantor Bank Indonesia
Ilustrasi- Kantor Bank Indonesia

Jakarta, Aktual.comBank Indonesia (BI) memastikan kesiapsiagaan penuh dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah selama libur Lebaran 2026 di tengah meningkatnya tekanan global. Langkah ini diambil seiring tingginya volatilitas pasar keuangan akibat konflik geopolitik dan arus modal keluar dari negara berkembang.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa meskipun aktivitas domestik berhenti sementara, pengawasan terhadap rupiah tetap berjalan tanpa henti.

“Pasar domestik memang tutup, tetapi pasar global tetap berjalan. Karena itu, kami terus berjaga dan memantau pergerakan rupiah terhadap dolar melalui pasar NDF selama 24 jam,” ujarnya dalam konferensi pers RDG, Selasa (17/3/2026).

Menurut Destry, tekanan terhadap mata uang negara berkembang saat ini terjadi secara merata akibat meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut tercermin dari pelemahan berbagai mata uang, meskipun depresiasi rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan beberapa negara lain.

Sepanjang Maret 2026, rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 1,29 persen secara month to date. Angka ini lebih rendah dibandingkan pelemahan mata uang di India, Filipina, dan Thailand.

“Secara keseluruhan, semua emerging markets menghadapi tekanan yang sama karena meningkatnya risk premium akibat ketidakpastian global,” kata Destry.

Untuk merespons kondisi tersebut, BI mengoptimalkan berbagai instrumen moneter, termasuk intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward (NDF), baik di domestik maupun global. BI juga membuka peluang intervensi di pasar internasional melalui koordinasi dengan kantor perwakilan luar negeri, seperti BI New York.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, mengingatkan bahwa tekanan tidak hanya berasal dari nilai tukar, tetapi juga dari sisi inflasi. Konflik di Timur Tengah, menurutnya, berpotensi mengganggu rantai pasok global dan mendorong kenaikan harga energi.

“Hal ini tentu akan berdampak pada inflasi, baik melalui jalur rantai pasokan maupun kenaikan harga komoditas yang perlu kita waspadai bersama,” ujar Aida.

Lebih lanjut, Aida juga menyoroti potensi tekanan dari faktor domestik, khususnya cuaca ekstrem. Ia menjelaskan bahwa musim kemarau yang lebih kering dan datang lebih awal berpotensi mengganggu produksi pangan.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kenaikan harga komoditas hortikultura seperti cabai, jagung, dan beras dalam waktu dekat.

“Karena ada indikasi kemarau yang lebih kering dan lebih dini, kita perlu mewaspadai dampaknya terhadap komoditas pangan,” tuturnya.

Dengan berbagai tantangan tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui bauran kebijakan nilai tukar dan pengendalian inflasi. Bank sentral juga memastikan tetap hadir di pasar global selama libur Lebaran guna menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi