Jakarta, Aktual.co — Bank Indonesia tengah mewaspadai potensi aliran modal keluar (capital outflow) jika pelemahan fundamental ekonomi Indonesia masih berlanjut pada triwulan II-2015.
“Memang sepanjang 2014 ada capital inflow (aliran modal masuk) mencapai Rp181 triliun, tetapi tidak ada jaminan uang akan masuk. Kalau fundamental ekonomi kita melemah, uang itu bisa keluar,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo dalam sebuah seminar di Jakarta, Kamis (7/5).
Agus melanjutkan, total aliran dana masuk ke dalam negeri sepanjang Januari-Mei 2015 yang mencapai Rp43 triliun bisa keluar, jika defisit neraca transaksi berjalan Indonesia terus membesar dan laju inflasi meningkat.
“Uang masuk Rp43 triliun pada Januari-Mei itu berasal dari pembelian Surat Utang Negara, saham atau Sertifikat Bank Indonesia. Ini berisiko keluar kalau inflasi kita tinggi, kalau ‘current account deficit’ (defisit transaksi berjalan) makin membesar,” kata Agus.
Menurut Agus, jika kondisi tersebut berlanjut secara berlarut-larut, hal tersebut akan memicu kerentanan terhadap perekonomian di dalam negeri secara keseluruhan. “Selama tiga tahun terakhir kita mengalami ‘current account deficit’ yang tinggi,” ujar Agus.
Agus menambahkan, pemicu utama tren kenaikan defisit transaksi berjalan ada pada penurunan ekspor dan meningkatnya impor. “Artinya, kebutuhan kita terhadap dollar AS semakin besar,” kata Agus.
Oleh karena itu, Agus berharap agar perusahaan swasta dan BUMN segera melakukan lindung nilai (hedging) terhadap utang-utang dolar yang dimiliki perusahan. “Jika sudah melakukan hedging, negara maupun perusahaan bisa akan menjadi semakin besar,” ujar Agus.

Artikel ini ditulis oleh: