Perusahaan semen asal Prancis, Lafarge (Anadolu Agency)

New York, aktual.com – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menyebut produsen semen asal Prancis, Lafarge bakal membayar USD 777 juta dolar setelah mengaku bersalah atas tuduhan keterkaitan dukungan keuangan kepada dua kelompok teroris.

“Lafarge membuat kesepakatan dengan iblis, teroris asing yang berjanji untuk, dan pada kenyataannya membahayakan Amerika Serikat, rakyatnya dan keamanan nasionalnya. Dan mereka melakukannya untuk mendapatkan keuntungan,” kata Jaksa AS untuk Distrik Timur New York, Breon Peace pada Selasa (18/10) kemarin.

Hakim Distrik William Kuntz memerintahkan Lafarge untuk membayar lebih dari USD 777,78 juta dalam penyelesaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di mana sebuah perusahaan telah mengaku bersalah di pengadilan AS untuk membantu dua kelompok teroris, termasuk bekas cabang al-Qaeda di Suriah, Front al-Nusra dan Daesh/ISIS.

Lafarge membiayai kelompok teror dari 2013 hingga 2014 untuk perlindungan dan memungkinkan kelanjutan operasi pabrik semen di Suriah utara yang dijalankan oleh anak perusahaan lokal Lafarge, Lafarge Cement Syria (LCS).

Menurut Departemen Kehakiman AS, pembayaran tersebut memungkinkan karyawan perusahaan melewati pos pemeriksaan di sekitar Pabrik Semen Jalabiyeh dan perusahaan ‘akhirnya setuju’ untuk membayar Daesh/ISIS berdasarkan volume semen yang dijual, yang oleh para eksekutif disamakan dengan membayar ‘pajak’.

“Kejahatan terorisme di mana Lafarge dan anak perusahaannya telah mengaku bersalah adalah pengingat yang jelas tentang bagaimana kejahatan korporasi dapat bersinggungan dengan keamanan nasional,” kata Wakil Jaksa Agung Lisa Monaco.

“Kasus ini mengirimkan pesan yang jelas ke semua perusahaan, tetapi terutama mereka yang beroperasi di lingkungan berisiko tinggi, untuk berinvestasi dalam program kepatuhan yang kuat, memperhatikan risiko kepatuhan keamanan nasional,” kata dia seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Holcim yang mengakuisisi Lafarge pada tahun 2015, mengatakan pihaknya mendukung tindakan Departemen Kehakiman AS dan mempertahankan pernyataan ‘tidak ada tindakan yang melibatkan Holcim’.

“Ini sangat kontras dengan semua yang diperjuangkan Holcim,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Anadolu Agency adalah media yang pertama melaporkan hubungan antara Lafarge dan dinas intelijen Prancis. Media ini pada 2021memperoleh dokumen yang menunjukkan Paris sadar bahwa Lafarge mendanai Daesh/ISIS.

Catatan menunjukkan bahwa badan intelijen Prancis menggunakan jaringan Lafarge dengan kelompok teror di Suriah untuk memperoleh informasi dari wilayah tersebut. Mereka juga mengungkapkan bahwa dinas intelijen Prancis tidak memperingatkan perusahaan bahwa mereka melakukan kejahatan tersebut.

​​​​Menurut dokumen, hubungan antara Lafarge dan intelijen Prancis dimulai pada 22 Januari 2014, ketika direktur keamanan perusahaan Jean-Claude Veillard mengirim email ke direktorat intelijen Kementerian Dalam Negeri. Veillard mengatakan perusahaan perlu menjaga hubungan dengan “aktor lokal” untuk dapat melanjutkan operasinya di Suriah. Dokumen yang diperoleh Anadolu Agency menunjukkan bahwa ada lebih dari 30 pertemuan antara Lafarge dan dinas intelijen domestik, asing, dan militer Prancis antara tahun 2013 dan 2014.

(Megel Jekson)