Spekulasi soal kemungkinan matinya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah konflik membuka pertanyaan besar tentang arah politik Israel. Analis politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Dr. Selamat Ginting, menilai skenario itu akan menjadi titik krusial yang menentukan wajah Israel ke depan.
“Kematian pemimpin di tengah konflik selalu menghadirkan ketidakpastian sekaligus percepatan sejarah,” ujar Selamat dalam keterangan tertulis diterima Aktual.com, Jumat (20/3/2026).
Secara sistem, Israel memiliki mekanisme cepat untuk mengisi kekosongan melalui kabinet atau parlemen (Knesset). Namun persoalan utamanya bukan sekadar prosedur, melainkan siapa figur yang mampu mengonsolidasikan kekuatan di tengah koalisi yang rapuh dan polarisasi politik yang tajam.
Sejumlah nama mencuat. Menteri Pertahanan Yoav Gallant dinilai kuat dalam konteks perang. Yair Lapid mewakili kubu moderat, sementara Benny Gantz sering dilihat sebagai figur kompromi antara kekuatan militer dan sipil.
“Ini bukan hanya soal siapa pengganti, tapi arah negara akan dibawa ke mana,” kata Selamat.
Ia melihat dua skenario besar. Dalam jangka pendek, pendekatan militer hampir pasti menguat, terutama jika kematian Netanyahu terkait serangan eksternal. Dalam logika keamanan, kehilangan pemimpin saat perang dipandang sebagai ancaman langsung terhadap negara.
“Respons Israel cenderung keras. Politik sipil akan mengikuti ritme militer,” ujarnya.
Konsekuensinya, operasi militer berpotensi meluas dan meningkatkan risiko konflik regional, termasuk dengan Iran, Hezbollah di Lebanon, hingga Gaza.
Namun di balik itu, ada peluang perubahan. Ketiadaan figur dominan seperti Netanyahu bisa membuka ruang konsolidasi politik baru dan pendekatan lebih diplomatis.
“Figur moderat bisa muncul, tapi itu sangat tergantung pada situasi keamanan. Tanpa jeda konflik, moderasi sulit terjadi,” kata Selamat.
Dampaknya akan meluas ke kawasan. Negara-negara Arab berpotensi meninjau ulang hubungan diplomatik, sementara Amerika Serikat akan berupaya menahan eskalasi.
Selama lebih dari satu dekade, Netanyahu menjadi arsitek utama politik Israel yang keras terhadap Iran dan skeptis terhadap solusi dua negara. Tanpa dirinya, Israel menghadapi pilihan: bertahan dalam pendekatan keamanan ekstrem atau mencari keseimbangan baru.
“Pergantian pemimpin bukan otomatis menghadirkan perdamaian. Yang dibutuhkan adalah keberanian keluar dari logika perang, dan itu yang paling sulit,” ujar Selamat.
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto

















