Makan, kata pria lulusan dari sekolah tinggi pariwisata Bandung, Jawa Barat ini merupakan kebutuhan hidup, sementara memasak merupakan pilihan. Karena itu bila ingin melakukan pilihan hidup, maka harus dapat melakukannya dengan sepenuh hati. Seperti halnya ketika memasak, maka akan membuat bahagia.

Abboud mengungkapkan, hak memilih juga ada ketika kalian menyusun menu, menentukan rasa, seperti halnya membuat diri dan keluarga merasakan nikmat makan, menambah pengalaman baru dengan mencoba menu baru, dan lainnya. Tidak ada menu khusus untuk menunjang kebahagian. Karena kepercayaan diri itu salah satu faktor yang menunjang kebahagiaan ketika memasak.

“Cukup dengan menu yang kita suka atau yang membuat kita tertarik untuk mencoba memasak. Biasanya menu-menu andalan, tren, atau challenging yang bisa membuat kita lebih merasa punya achievement. Perasaan berhasil dan bangga akan hasil dari masakan tersebut membuat kita lebih percaya diri. Kepercayaan diri itu salah satu faktor yang menunjang kebahagiaan di dapur. Isn’t it right?” kata Abboud.

Terkait riset bahwa memakan makanan yang sudah masak menjadikan bahagia, Abboud melanjutkan, untuk sebagian orang memang benar makan-makanan yang sudah masak bisa membuat orang bahagia. Karena sebagian orang lainnya kadang-kadang cukup puas dan bahagia melihat keluarga dan teman menikmati hasil masakan yang dimasak.

“Saya pribadi bisa merasakan keduanya. Saya bahagia dengan makan hasil masakan saya, dan saya bahagia melihat orang suka dan menghabiskan hasil masakan saya,” jelas Abboud.

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu