Jakarta, Aktual.co — Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) pada triwulan pertama (Januari-Maret 2015) sebesar Rp42,5 triliun atau meningkat 22,8 persen. Sedangkan realisasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp82,1 triliun atau meningkat 14,0 persen.

Realisasi PMDN tersebut paling banyak pada sektor konstruksi, dengan persentase 16,2 persen atau sebesar Rp6,9 triliun. Selanjutnya yaitu sektor listrik, gas, dan ar dengan persentase 14,6 persen atau sebesar Rp6,2 triliun, disusul sektor industri makanan memiliki persentase 14,5 persen atau sebesar Rp6,2 triliun, dan sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi dengan persentase 12,3 persen atau sebesar R5,2 triliun.

“Sektor industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi memiliki persentase 9,4 persen atau sebesar Rp4 triliun, dan lainnya persentase 33 persen dengan nilai Rp14 triliun,” ujar Kepala BKPM, Franky Sibarani di Jakarta, Selasa (28/4).

Sementara itu, untuk PMA sektor yang paling besar pada pertambangan, dengan persentase 17,3 persen atau sebesar USD1,1 miliar. Selanjutnya yaitu sektor industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik dengan persentase 11,7 persen atau sebesar USD0,8 miliar, tanaman pangan dan perkebunan memiliki persentase 9,1 persen atau sebesar USD,6 miliar.

“Industri alat angkutan dan transportasi lainnya sebesar USD0,6 miliar atau 8,9 persen, industri makanan mencapai USD0,5 miliar atau 8,1 persen, dan lainnya 44,9 persen atau USD2,9 miliar,” pungkasnya.

Sedangkan untuk keseluruhan PMDN dan PMA realisasinya paling besar pada sektor pertambangan dengan persentase 12 persen, atau sebesar Rp15 triliun, sektor industri makanan dengan persentase 10,3 persen atau sebesar Rp12,8 triliun. Sektor industri listrik, air, dan gas memiliki persentase 9,4 persen atau sebesar Rp11,7 triliun, tanaman pangan dan perkebunan persentase 9,1 persen atau Rp11,3 triliun, industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik sebesar 8,6 persen atau Rp10,8 triliun, dan lainnya sebesar 50,6 persen atau Rp63 triliun.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka