Jakarta, Aktual.com — BMW China mengumumkan penyesuaian rekomendasi harga ritel terhadap lebih dari 30 model utama kendaraan mereka yang mulai berlaku pada 1 Januari 2026. Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk menghadapi persaingan yang kian ketat di pasar otomotif China.

Mengutip laporan CarNewsChina, Sabtu (3/1/2026), penyesuaian harga tersebut mencakup berbagai segmen, mulai dari sedan mewah hingga kendaraan listrik entry-level. Sebagian besar model mengalami penurunan harga lebih dari 10 persen, mencerminkan tekanan besar yang dihadapi merek premium global di pasar terbesar otomotif dunia tersebut.

Penurunan harga paling signifikan tercatat pada sedan listrik premium BMW i7 M70L. Model ini mengalami pemangkasan harga sebesar 301.000 yuan atau sekitar 16 persen, dari sebelumnya 1,899 juta yuan menjadi 1,598 juta yuan. Jika dikonversikan, harga tersebut turun dari kisaran Rp4,5 miliar menjadi sekitar Rp3,8 miliar.

Diskon besar juga terjadi pada SUV listrik BMW iX1 eDrive25L. Model ini kini dibanderol 228.000 yuan, turun tajam dari harga sebelumnya 299.900 yuan. Penurunan ini menempatkan iX1 dalam posisi yang lebih kompetitif di segmen SUV listrik kompak.

Sementara itu, lini sedan eksekutif BMW Seri 7 juga terdampak penyesuaian harga. Varian dasar 735Li kini dipasarkan mulai 808.000 yuan, turun dari 919.000 yuan. Adapun 740Li Advanced mengalami penurunan dari 1,069 juta yuan menjadi 938.000 yuan. Kedua model tersebut mencatat pemangkasan harga sekitar 12 persen.

BMW menyatakan kebijakan ini merupakan implementasi nyata dari strategi “di China untuk China”, yang bertujuan meningkatkan keterjangkauan produk sekaligus memperkuat daya saing merek di pasar domestik.

Secara industri, langkah BMW mencerminkan perubahan lanskap pasar otomotif China. Produsen lokal seperti BYD, NIO, XPeng, dan Geely semakin agresif menawarkan kendaraan listrik berteknologi tinggi dengan harga kompetitif. Kondisi ini memaksa merek premium internasional, termasuk Mercedes-Benz dan Audi, untuk menyesuaikan harga bahkan menjual kendaraan di bawah harga eceran yang direkomendasikan.

Analis menilai perang harga ini akan terus berlanjut, seiring dominasi pabrikan China yang semakin kuat dalam teknologi baterai, perangkat lunak, dan efisiensi biaya produksi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi